Wikan Danar's posts with tag: motivasi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag motivasi
Blog EntryManusia Tercepat, Berlari Tanpa KakiJul 27, '07 8:34 PM
for everyone
Perkenalkan, Oscar Pistorius, pelari Afrika Selatan, penyandang medali perak dan perunggu Paralympics (Olimpiade Penyandang Cacat) 2004, dan penyandang medali emas di Piala Dunia Paralympics 2005 untuk jarak 100 dan 200 m.

Tahun 2007 ini, IAAF (Asosiasi Atletik Internasional), mencabut ketentuan "peralatan teknik yang memungkinkan untuk melakukan loncatan, roda, atau elemen lain yang memungkinkan pengguna mendapatkan keuntungan dari atlit lain yang tidak menggunakan peralatan serupa". Pencabutan ketentuan ini menguntungkan Oscar dan rekan-rekan lainnya yang mengalami keadaan serupa, dan memungkinkan Oscar untuk masuk ke olimpiade untuk orang normal.

Banyak pihak menudingnya bahwa dengan peralatan yang ia pakai untuk lari, berupa sepasang bilah serat karbon berbentuk huruf J yang bernama "Cheetahs", ia mendapatkan keuntungan, karena Cheetahs lebih panjang dari seharusnya yang memungkinkan ia menjejak lebih jauh,  dan tidak ada asam laktat yang terbentuk yang memperlambat gerak atlit normal. Oscar dan pelatihnya membantah anggapan tersebut.  Dan menyatakan bahwa Oscar  harus menghadapi lebih banyak kerugian seperti hujan (bikin licin), angin, dan dia butuh energi yang lebih besar di awal lari. Pakar juga menyatakan bahwa Cheetahs hanya mengembalikan 80% energi yang diserap ketimbang kaki biasa. Oscar sendiri menyatakan "kalau IAAF menemukan bukti bahwa ia mendapat keuntungan dari Cheetahs, ia akan berhenti lari. Karena ia tidak ingin menang dalam pertandingan yang tidak jujur".

Oscar Pistorius, seorang sosok yang optimistik. Dia membuat sendiri slogannya sebagai "Yang Tercepat, Tanpa Kaki". Dan bersemboyan "Anda tidak mampu bukan karena ketidakmampuan Anda, tapi Anda mampu karena kemampuan yang Anda miliki". Dengan semangatnya yang luar biasa, ia berharap bisa berjuang untuk masuk ke Olimpiade Beijing 2008. Jika seorang Oscar Pistorius mampu melaju secepat kilat dan mengatasi keterbatasannya, tentu tidak ada alasan buat kita untuk mencari-cari alasan dan keterbatasan kita. Kita harus mampu melaju dengan kemampuan kita.

Sumber:
Spiegel
Wikipedia



Blog EntryOn Getting OlderJan 10, '07 6:34 AM
for everyone
Orang bilang, tambah umur, tambah dewasa, tambah bijaksana. Meskipun belum tentu berlaku buat semua orang. Ada yang tambah umur, bukannya tambah dewasa dan bijak, malah tetap atau semakin kekanak-kanakan.

Kalau bertambah umur, sebenarnya jatah hidup berkurang. Jatah oksigen juga semakin menipis, diabisin sama orang-orang yang menebang hutan sembarangan, yang mengakibatkan CO2 semakin bertambah dan efek rumah kaca serta pemanasan global semakin meningkat.

Pada masa muda, orang bertanya-tanya, akan ke mana mereka setelah dewasa. Apa cita-cita mereka. Maka mereka pun merancang cita-cita mereka. Pengin jadi presiden, pengin jadi pilot, pengin jadi dokter, pengin jadi astronot.

Makin tua, orang makin realistis dengan cita-citanya. Setelah melalui jenjang sekolah, orang dihadapkan pada sejumlah pilihan dan kondisi kemampuannya pribadi. Wah, ternyata saya tidak bisa menjadi presiden, karena ini. Wah, saya gak bisa jadi astronot karena itu. Akhirnya karena pilihan semakin terbatas, semakin sempit, orang mengganti cita-citanya.

Di kemudian hari, saat memilih jurusan di perguruan tinggi, orang semakin merasa perlu untuk memfokuskan diri pada suatu pilihan. Well, ada juga yang milih suatu jurusan tertentu karena ikut-ikutan. Tapi menurut saya, kuliah di perguruan tinggi menjadi awal dari karier dan kehidupan selanjutnya.

Banyak orang yang merasa salah jurusan, entah karena itu adalah pilihan kedua atau pilihan orang tuanya, sehingga penginnya ganti jurusan. Tapi terkadang ganti jurusan tidak memecahkan masalah juga. Apalagi kalau permasalahannya adalah soal like and dislike. Suka atau tidak suka. Wah, kuliah di sini berat, banyak tugasnya. Kenapa teman saya yang kuliah di jurusan anu atau universitas itu bisa lebih santai gak ada tugas. Bisa haha hihi, ketawa-ketawa, tiap malem clubbing atau nonton film sepuasnya. Lah, kok dunia kampus tidak seperti yang dibayangkan di filem-filem itu, di mana bisa jalan2 terus, pacaran terus. Ini sih boro2 bergaul, PR bejibun, tugas segitu banyaknya. Mana dosennya galak2 lagi. Ada juga yang males ngajar.

Well, dunia tidak sesempurna yang dibayangkan. Banyak liku-likunya. Tidak seperti sebuah jalan lurus yang membentang dan selalu bernuansa indah. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang menjadi bagian dari kehidupan yang harus dihadapi. Dan ini adalah nyata.

Dulu saya pernah berkata, "ini bukan perangku", saat saya harus menghadapi remeh temeh, hal-hal kecil yang saya pikir harusnya bukan menjadi bagian dari tugasku atau dari bagian pemikiranku. Tapi kemudian saya belajar bahwa "apa pun yang terjadi di depan, itu adalah bagian dari hidup". Kita tidak bisa memilih pada situasi apa kita diturunkan. Kalau di skenario film perang, mungkin kita memilih untuk berada di garis depan, bertempur dengan heroik dan gagah berani. Tapi dalam kenyataannya, kita berada di belakang, bagian dapur yang kerjanya cuman motong kentang dan masak buat logistik pasukan yang bertempur di depan.

Apakah pasukan di garis depan lebih penting daripada juru masak di garis belakang?
Bagaimana jika juru masak maju ke depan semua sehingga tidak ada lagi yang masak dan mengirim logistik ke garis depan? Well, konyol. Pasukan bisa mati kelaparan, bukan karena ditembak musuh.

Tiap-tiap orang begitu spesial dengan bidang dan keahliannya. Tiap orang begitu unik. Dan tiap orang harus menjalani takdirnya sendiri. Seorang guru/pemimpin bisa memberi tahu arah ke mana seseorang harus melangkah. Tapi dia sendiri yang harus menjalaninya.

Selamat bertambah tua. Semoga bertambah dewasa, bertambah bijaksana.

Barry James Marshall adalah seorang profesor klinik mikrobiologi di University of Western Australia. Pada tahun 1981 ia bertemu dengan Robin Warren, seorang patologis yang mendalami bidang gastritis selama pelatihan di Royal Perth Hospital. Bersama Warren, Marshall mengembangkan penelitian yang mnghubungkan keberadaan bakteri spiral dan gastritis (penyakit maag). Di tahun 1982 mereka mengeluarkan teori antara hubungan keberadaan bakteri spiral (Helicobacter pylori) sebagai penyebab penyakit gastritis dan peptic ulcer.

Masyarakat kedokteran menertawakan teori mereka. Bagaimana mungkin bakteri bisa hidup dalam lambung yang kondisinya sangat asam. Sebelumnya (dan mungkin juga sampai sekarang), orang awam dan masyarakt kedokteran mempercayai bahwa maag disebabkan karena stress, makanan pedas, peningkatan asam, atau telat makan. Tetapi Marshall tidak main2 dengan teorinya. Untuk membuktikannya, ia meminum secawan mangkuk yang berisi bakteri Helicobacter pylori dan seketika ia menderita gastritis.

Ia sembuh dua minggu setelahnya. Tapi istrinya memaksa dia untuk meminum antibiotika untuk membunuh bakteri yang tersisa, gara2 mulutnya bau (halitosis) yang merupakan dampak dari infeksi bakteri H. pylori.

Di tahun 1984, eksperimen ini muncul di Australian Medical Journal dan termasuk artikel yang paling sering dikutip.

Marshall dan Warren masih meneruskan penelitiannya tentang H. pylori.

Tahun 2005, Karolinska Institute di Stockholm menganugerahi Marshall dan Warren penghargaan Nobel dalam bidang kedokteran untuk penemuan bakteri H. pylori dan peranannya dalam penyakit gastritis dan peptic ulcer.

Sampai sekarang mereka masih meneliti tentang bakteri itu.

Bayangkan ...
Pertama kali mengeluarkan teori, dan semua orang menertawakannya, menganggapnya tidak ilmiah dan tidak masuk akal. Hingga terpaksa meminum bakteri untuk membuktikan teorinya.
Puluhan tahun bekerja keras dengan penuh ketekunan dan konsistensi, yakin pada teori yang ia keluarkan. Hingga akhirnya masyarakat dunia menghargainya dan memberikan penghargaan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan. Dan mereka masih saja meneruskan pekerjaan mereka. Penghargaan Nobel bukan akhir dari segalanya.

Berapa banyak dari kita yang cepat merasa puas akan hasil yang kita capai?
Berapa banyak dari kita yang merasa cepat lelah dan cepat bosan karena hasil yang tidak segera tercapai?
Berapa banyak dari kita yang merasa terhina atas celaan atau kritikan orang sehingga kita mengurungkan niat dan kerja kita?
Berapa banyak dari kita yang tidak melanjutkan pekerjaan, bersenang2 setelah merasa kesuksesan telah tercapai?

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman Dr Marshall dan Dr Warren dalam pencapaiannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia. Bahwa untuk meraih keberhasilan dibutuhkan konsistensi dan keyakinan, bahkan setelah keberhasilan itu telah dicapai.






Blog Entry14 Prinsip Hidup JawaNov 6, '06 2:11 AM
for everyone
Dapat dari seorang teman, 14 prinsip hidup Jawa yang menurut saya menarik untuk dapat dihayati dan diamalkan. Selamat menikmati :)

==

14 Prinsip Hidup Jawa

1.            Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

2.            Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

3.            Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli (Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi)

4.            Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

5.            Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

6.            Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka; dan Barang siapa yang ragu-ragu akan binasa atau merugi).

7.            Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).

8.            Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).

9.            Sing Sabar lan Ngalah Dadi kekasih Allah (Yang sabar dan mengalah akan jadi kekasih Allah).

10.       Sing Prihatin Bakal Memimpin (Siapa berani hidup prihatin akan menjadi satria, pejuang dan pemimpin).

11.       Sing Resik Uripe Bakal Mulya (Siapa yang bersih hidupnya akan hidup mulya).

12.       Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat).

13.       Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (Keberanian, kekuatan dan kekuasaan dapat ditundukkan oleh salam sejahtera).

14.       Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

Blog EntryMenunda Kesenangan Kecil demi Kesuksesan BesarNov 5, '06 6:35 AM
for everyone
Dear friends,
ada tulisan menarik yang ingin saya bagi di bawah ini.
Bercerita tentang kisah si Rambo, Sylvester Stallone yang berani menolak uang 1 juta dollar demi kesuksesan kariernya di belakang hari, meskipun saat itu dia sedang tidak punya duit.

Menurut saya, sikap seperti Sly ini tidak mudah untuk diwujudkan.
Butuh berpikir seribu kali sebelum orang menolak duit yang begitu besar (dari yang sebelumnya sangat miskin), untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar.
Butuh kekuatan intuisi yang besar sehingga pada akhirnya Sly dapat menjadi aktor yang besar dan sukses.

Sebenarnya, mungkin akan lebih banyak cerita kegagalan yang tidak terungkapkan.
Kita bisa belajar, baik dari keberhasilan ... maupun kegagalan.

selamat menikmati ceritanya ...

==

MENUNDA KESENANGAN KECIL DEMI KESUKSESAN BESAR

 
Seberapa banyak yang ingin kita raih di dalam hidup ini ?
 
Apakah kita telah puas dengan kondisi saat ini, ataukah masih ada keinginan untuk terus menggapai hal-hal baru, yang selama ini belum kita dapatkan ? Dalam proses kita untuk mencapai tujuan itu, ada rintangan yang seringkali menghambat langkah kita sesaat. Saat kita bisa menyelesaikan rintangan itu, akan membuat langkah kita ke depan menjadi semakin kuat dan mantap. Tapi kadang-kadang, seringkali tanpa sadar, saat kita bisa menyelesaikan suatu masalah, kita merasa sudah puas dengan kondisi itu, dan langkah kita terhenti disana. Kita seolah sudah lupa, bahwa tujuan utama kita sebenarnya belum tercapai. Ibaratnya, saat kita bersekolah, kita mendapat nilai sepuluh dalam sebuah test harian. Dan kita sudah cukup puas dengan nilai itu,
padahal ujian-ujian itu tadi hanyalah proses-proses sementara, karena bukankah tujuan utama dalam bersekolah adalah naik kelas, dan lulus ?
 
Kesenangan-2 kecil, tentu perlu juga dirayakan, karena bisa memberikan kebahagiaan, kebanggaan dan kesenangan sementara. Tapi tentu kita tidak boleh terlena di dalamnya lalu berhenti disana. Setelah kesenangan itu selesai dirayakan, kita harus kembali bekerja keras pada jalur utama yang kita tuju.
 
Orang-orang yang sukses di dunia ini, mereka bahkan berani menunda kenikmatan kecil mereka, demi sebuah tujuan utama yang lebih besar. Sebuah kisah nyata yang tepat bagaimana kita menunda kesenangan kecil demi mendapatkan kesuksesan yang lebih besar, adalah Sylvester Stallone. Dia memang kini salah satu aktor termahal di Hollywood, tapi tahukah anda bagaimana dia memulai karirnya ?
 
Stallone lahir dari sebuah keluarga miskin di Amerika. Walau demikian, latar belakang keluarga tidak menghalanginya untuk bermimpi menjadi seorang bintang besar. Saat remaja, dia sudah sering mencoba casting di beberapa film murahan, namun itupun tidak pernah berhasil. Suatu saat, Stallone terinspirasi pada sebuah pertandingan tinju, yang membuatnya menulis tentang manuscipt film olahraga tinju, "Rocky".
 
Setelah selesai, Stallone mencoba menawarkan skrip-nya kepada berbagai perusahaan film, tapi tidak ada yang mau membelinya, karena pada saat itu memang film dengan latar belakang tinju tidak laku di pasaran. Sampai akhirnya, ada sebuah perusahaan yang mau menawar harga naskah film tersebut sebesar 75.000 dollar, sejumlah uang yang nilainya puluhan kali lipat dari uang yang pernah dimiliki Stallone.
 
Saat itu, ada kebimbangan di dalam hatinya. Uang itu, cukup untuk membuatnya hidup lebih layak dan makmur. Tapi di sisi lain, Stallone ingin menjadi seorang bintang, seorang aktor terkenal, bukan seorang penulis naskah film. Jadi Stallone mencoba menawarkan kepada perusahaan film tersebut, agar dia yang menjadi aktor utamanya. Mereka menolak, karena mereka sudah memilih seorang aktor yang sudah berpengalaman untuk film tersebut, dibanding Stallone yang tidak punya latar belakang dan pengalaman di film. Negosiasi menjadi alot, karena Stallone menolak menjual naskah tersebut jika bukan dia yang menjadi pemeran utamanya. Bahkan saat harga naskah itu meningkat tiga kali lipat, dan terus meningkat hingga satu juta dollar, Stallone tetap menolaknya. Walau ia miskin dan lapar, tapi dia berani menolak uang satu juta dollar, hanya karena dia sudah punya impian yang kuat, bahwa dengan menjadi aktor, dia bisa memperoleh uang jauh lebih banyak dari uang satu juta dollar.
 
Akhirnya, perusahaan film itu menyerah juga, dan mereka mengijinkan Stallone menjadi pemeran utama, dengan syarat naskah itu dijual hanya dengan harga 35.000 dollar, serta Stallone hanya akan mendapat bayaran sebagai aktor sejumlah persentase tertentu jika film itu cukup laku di pasaran. Sebuah pilihan berisiko tinggi diambil oleh Stallone. Mengorbankan uang 75.000 dollar, dan hanya mendapatkan 35.000 dollar plus tambahan lagi beberapa ribu dollar jika film itu laris. Semua orang di sekitarnya mengatakan bahwa keputusan itu adalah keputusan terburuk yang pernah diambil Stallone. Tapi Stallone tidak menggubris itu semua, karena di hatinya dia tahu, bahwa yang dia lakukan ini hanyalah menunda kesenangan sesaat, untuk mendapatkan kesenangan lain yang lebih besar.
 
Pada waktu film Rocky diluncurkan, bukan saja film itu menjadi laris, tapi bahkan menjadi box office di seluruh dunia , dengan total penjualan bersih menjadi 171 juta dollar, meraih 10 nominasi untuk academy awards, serta mendapatkan satu piala Oscar. Secara spontan, Stallone langsung naik daun menjadi aktor kelas atas Hollywood, dan tawaran main film kelas satupun mulai berdatangan ke dirinya. Apa yang dialami oleh Sylvester Stallone adalah sebuah pilihan untuk berani menunda kesenangan-kesenangan kecil, dan berjuang untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi lagi.
 
Jangan pernah terjebak dengan kenyamanan sementara, yang kadang membuat kita merasa sudah puas, padahal bukan itu sebenarnya yang kita inginkan. Nikmati hasil sementaranya, tapi tetaplah punya visi ke depan yang jelas, untuk terus mengejarnya.
 
Sukses untuk anda !
 
 

SONNY VINN

Moderator milis The Acesia, Motivator, Public Speaker
Pengarang buku motivasi best seller "SLAM DUNK For SUCCESS"

Blog EntryJangan Perlihatkan Luka di depan LawanJun 18, '06 6:38 AM
for everyone
Menarik sekali tulisan yang dibuat Pak Kafi Kurnia di Gatra ini. Isinya mengenai pesan dari Sun Tzu untuk tidak memperlihatkan luka/kelemahan kita kepada lawan. Memperlihatkan luka menunjukkan kelemahan kita, sehingga mudah diserang lawan dan menjadikan kita akhirnya kalah. Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata pesan ini cukup aplikatif. Kadang-kadang karena pemikiran yang dangkal dan tidak strategis membuat kita terburu-buru dalam mengambil langkah dan kebijakan. Akhirnya justru hal tersebut membuka "luka" kita sendiri. Berikut tulisan Pak Kafi ...

===

KETIKA masih di SMA, setiap kali ada pertandingan bola voli dengan sekolah lain, guru olahraga kami selalu memberikan instruksi yang sederhana tapi jitu. Yaitu, amati regu musuh baik-baik. Temukan anggota tim yang paling lemah. Hantam terus anggota yang lemah itu. Teman-temannya akan berusaha melindungi begitu tahu ia dicecar musuh. Biasanya, tak lama kemudian, anggota tim itu akan panik. Setelah itu, kebanyakan konflik muncul. Dan regu musuh akan mulai membuat kesalahan. Jalan menuju kemenangan biasanya akan terlihat lebih jelas.

Pelajaran ini sangat membekas dalam diri saya. Strategi perang Sun-Tzu juga mengajarkan hal yang sama. Kepada saya, seorang tokoh bisnis pernah mengatakan: "Kalau Anda terluka, sembunyikan luka itu baik-baik. Jangan sampai ketahuan musuh." Artinya, jangan pernah memperlihatkan kelemahan pada musuh. Akibatnya bisa fatal. Melebihi luka itu sendiri.

Beberapa hari yang lalu, saya dan Mpu Peniti keliling Jakarta menikmati udara sore sambil mencari tempat untuk ngopi. Kami melewati sebuah restoran. Tampaknya masih baru. Kurang lebih baru buka dua-tiga bulan. Tapi di depan sudah terpasang spanduk dengan promosi 50% diskon. Mpu Peniti sambil senyum-senyum berkomentar bijak, "Kasihan, ya. Sudah tidak laku malah dikasihtahu ke semua orang."

Saya tersenyum. Ini kesalahan yang sangat umum. Banyak pengusaha yang membuka usaha tapi sudah sebulan berjalan masih saja sepi pengunjung. Lalu panik. Mereka melakukan promosi membabi buta. Mau pasang iklan segan. Karena sudah sepi, kena biaya iklan takut malah makin merugi. Jadi, dipilihlah promosi yang paling mudah, spanduk. Tapi konsumen zaman sekarang sudah pandai. Sudah bisa membaca gelagat.

Zaman dulu, department store yang suka bikin acara obral sangat disukai. Karena murah meriah. Beda dengan sekarang. Department store yang terlalu sering obral dicibir konsumen. Kritik mereka, pasti mereka tidak laku. Atau barangnya jelek-jelek, jadi diobral. Sebaliknya, butik-butik ultra-eksklusif selalu tidak pernah melakukan obral. Konsumen sudah sangat sensitif tentang hal ini. Jadi, merayu dan membujuk konsumen akan makin sangat sulit.

Lalu, apa triknya? Kalau usaha sepi, hati-hatilah berpromosi. Salah-salah justru mempromosikan bahwa usaha Anda sepi. Anda mempertontonkan luka. Akibatnya bisa fatal. Usaha malah bisa semakin sepi. Berpromosilah dengan cerdas. Kalau Anda punya restoran, bakery, toko kue, dan sebagainya, jangan terpancing melakukan soft opening. Berbahaya! Kalau belum siap, jangan buka dulu.

Pembukaan sebuah usaha harus meriah dan kalau perlu bikin macet. Trik ini saya pelajari dari Bapak M.S. Kurnia (almarhum). Ketika saya masih bekerja di Hero Pasar Swalayan, beliau selalu menasihati saya bahwa pembukaan toko harus meriah sekali. Karena kesan pertama selalu menentukan.

Kesan bahwa tempat usaha Anda ramai bisa diciptakan secara imajinatif. Seorang teman bercerita, ketika membuka tempat kursus bahasa Inggris pertama kali, ia memberikan kursus gratis tiga bulan. Ia sengaja keliling kampus dan menawarkan kursus gratis tersebut hanya kepada mahasiswi yang cantik-cantik. Tak lama kemudian beredar kabar bahwa murid-murid di tempat kursusnya terkenal cantik-cantik. Bulan kedua, tempat kursus itu diserbu para calon murid.

Seorang teman yang sukses membuka bakery bercerita bahwa awalnya ia terpancing untuk mengikuti promosi, setelah pukul enam sore, diskon 50%. Sebuah promosi yang populer di kalangan bakery untuk menghindari terlalu banyak produk yang tersisa. Tapi akhirnya ia mengambil jalan lebih imajinatif. Ia membuat promosi khusus arisan.

Buat mereka yang ikut arisan di bakery-nya pada pukul dua hingga empat sore, ia memberikan roti dan kue gratis. Kelompok arisan hanya membayar biaya minum, kopi dan teh. Hasilnya lumayan. Kelompok arisan ini, setiap habis arisan, selalu saja berbelanja untuk oleh-oleh di rumah. Setelah beberapa bulan berjalan, tokonya selalu ramai setiap sore. Biaya diskon akhirnya ia salurkan dengan cara lebih imajinatif tapi efektif.

Jadi, jika usaha Anda sepi, jangan cepat panik. Seorang jagoan tidak pernah memperlihatkan lukanya.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Bernd Willenberg