Lanjutan dari "
Adu Kesaktian Menyetop Lumpur"
Dari sejumlah paranormal yang menjajal kesaktiannya menyetop lumpur lapindo,
ternyata ada juga yang sukarela untuk mencoba menyetop lumpur, meskipun akhirnya gagal.
Mungkin maksudnya biar gak malu kalau gagal, makanya mereka sukarela.
Kalau berhasil, baru deh diklaim hadiahnya ... ha ha ha

Anyway, perlombaannya masih terus dilanjutkan sampai sebelum puasa.
Pas bulan puasa, dihentikan, tar diterusin lagi abis lebaran
Itu kalau lumpurnya masih belum berhenti. He he ...
***
http://www.antara.co.id/seenws/?id=4219913 September 2006
30 Paranormal Sukarela Gagal Sumbat Lumpur Lapindo
Sidoarjo (ANTARA News) - Sebanyak 30 paranormal dari berbagai daerah di
Tanah Air yang secara "sukarela" datang ke Sidoarjo, Jatim, dinyatakan gagal
menyumbat semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc.
Menurut Yanto, salah seorang petugas pendaftar sayembara, ditemui di Balai
Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu, paranormal yang
melakukan secara sukarelawan ini tidak termasuk dalam daftar peserta
sayembara.
"Mereka melakukan ini tanpa melihat hadiah yang diperebutkan. Melainkan
ingin menolong masyarakat yang terkena musibah," ujarnya.
Seperti diketahui, warga Kedungbendo yang kesal dengan "ulah" lumpur Lapindo
menyelenggarakan lomba bagi paranormal yang mampu menghentikan semburan
lumpur dengan hadiah satu unit rumah seharga Rp80 juta.
Dia menuturkan, jadwal paranormal sukarelawan ini ditentukan oleh
pesertanya, bukan panitia penyelenggara. Jadi kalau mereka siap melakukan
ritual penyumbatan saat ini maka warga Kedungbendo hanya menyetujuinya.
"Mereka datang ke sini untuk laporan saja. Istilahnya nyuwun sewu (permisi
dulu) kepada tuan rumah," paparnya.
Yanto menuturkan, perbedaan peserta yang terdaftar dengan peserta
sukarelawan ini dapat diketahui dari maksud tujuan mereka. Kalau sukarelawan
benar-benar iklas tanpa meminta hadiah apapun jika berhasil menyelesaikan
misinya, akan tetapi peserta terdaftar dimungkinkan memperoleh hadiah.
Peserta paranormal sukarelawan ini ternyata tidak hanya datang dari Jawa
Timur saja, akan tetapi dari luar Jatim, seperti Kalimantan, Bali, Banten
maupun Jakarta.
Selain itu, Yanto menjelaskan, perkembangan jumlah peserta sayembaya pada
tahap pertama ini yang sudah dinyatakan gugur atau gagal menyumbat luapan
lumpur berjumlah 25 orang. Berdasarkan data, jumlah peserta sayembara pada
tahap pertama sebanyak 45 orang. Jadi tinggal 20 orang saja yang belum
melakukan ritual penyumbatan.
Sisa peserta yang belum melakukan ritual ini akan diberikan batas waktu
maksimal 10 hari sebelum bulan puasa tiba. "Kemungkinan 20 peserta ini harus
diselesaikan secepatnya sebelum bulan puasa tiba," ungkapnya.
Lebih jauh Yanto menjelaskan, untuk peserta yang mendaftar sayembara pada
tahap II ini sudah mencapai 40 orang. Menurut informasi, pendaftaran
sayembara pada tahap kedua ini sudah ditutup pada Minggu (10/9) lalu karena
sudah mendekati puasa.
"Kalau mereka mau menyumbat dengan sukarela maka pelaksanaan ritual bisa
dilakukan mendadak. Akan tetapi jika mereka mendaftar sebagai peserta
sayembara pada tahap kedua maka ritual dilakukan setelah lebaran," paparnya.
Sayembara dibuka di Balai Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin selama
satu bulan mulai 1-30 September 2006. Sayembara ini terselenggara atas pesertanya, bukan panitia penyelenggara. Jadi kalau mereka siap melakukan
ritual penyumbatan saat ini maka warga Kedungbendo hanya menyetujuinya.
"Mereka datang ke sini untuk laporan saja. Istilahnya nyuwun sewu (permisi
dulu) kepada tuan rumah," paparnya.
Yanto menuturkan, perbedaan peserta yang terdaftar dengan peserta
sukarelawan ini dapat diketahui dari maksud tujuan mereka. Kalau sukarelawan
benar-benar iklas tanpa meminta hadiah apapun jika berhasil menyelesaikan
misinya, akan tetapi peserta terdaftar dimungkinkan memperoleh hadiah.
Peserta paranormal sukarelawan ini ternyata tidak hanya datang dari Jawa
Timur saja, akan tetapi dari luar Jatim, seperti Kalimantan, Bali, Banten
maupun Jakarta.
Selain itu, Yanto menjelaskan, perkembangan jumlah peserta sayembaya pada
tahap pertama ini yang sudah dinyatakan gugur atau gagal menyumbat luapan
lumpur berjumlah 25 orang. Berdasarkan data, jumlah peserta sayembara pada
tahap pertama sebanyak 45 orang. Jadi tinggal 20 orang saja yang belum
melakukan ritual penyumbatan.
Sisa peserta yang belum melakukan ritual ini akan diberikan batas waktu
maksimal 10 hari sebelum bulan puasa tiba. "Kemungkinan 20 peserta ini harus
diselesaikan secepatnya sebelum bulan puasa tiba," ungkapnya.
Lebih jauh Yanto menjelaskan, untuk peserta yang mendaftar sayembara pada
tahap II ini sudah mencapai 40 orang. Menurut informasi, pendaftaran
sayembara pada tahap kedua ini sudah ditutup pada Minggu (10/9) lalu karena
sudah mendekati puasa.
"Kalau mereka mau menyumbat dengan sukarela maka pelaksanaan ritual bisa
dilakukan mendadak. Akan tetapi jika mereka mendaftar sebagai peserta
sayembara pada tahap kedua maka ritual dilakukan setelah lebaran," paparnya.
Sayembara dibuka di Balai Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin selama
satu bulan mulai 1-30 September 2006. Sayembara ini terselenggara atas
inisiatif dari Direktur PT Teguh Rahma Jaya, H Hasan SH MH selaku pengembang
Perumahan Tanggulangin Citra Pesona Permai (TCPP), sekaligus Kepala Desa
Kedungbendo.(*)
Copyright © 2006 ANTARA
13 September 2006 17:42