Wikan Danar's posts with tag: latex

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag latex
ReviewReviewReviewReviewBekerja dengan LaTEXJun 13, '06 12:35 AM
for everyone
Category:Other
LaTEX (dibaca Lay-tech, atau Lah-tech seperti pada technology) adalah suatu typesetting system yang berguna untuk melakukan pemformatan pada penulisan dan pencetakan dokumen. Berbeda dengan Microsoft Word atau Word Processor lain, LaTEX ini bukan sistem yang menganut WYSIWYG (What You See is What You Get). Kita harus memberikan perintah-perintah, semacam tag dalam HTML, yang memungkinkan munculnya efek pemformatan pada hasil akhir. Hasilnya dapat di-preview, untuk kemudian dicetak di atas kertas dengan hasil yang profesional ala percetakan ... begitu janjinya.

Belajar menggunakan LaTEX ini lumayan rumit juga. Seperti halnya dengan penggunaan HTML, kita perlu menghafal, atau paling tidak membaca/mencari-cari perintah untuk menampilkan efek tertentu. Namun dengan semakin sering kita berlatih dan menggunakan LaTEX, lama-lama juga bisa hafal di luar kepala. Beberapa text editor seperti WinEdt juga menyajikan fasilitas yang memudahkan penulisan dokumen LaTEX.

Dari sejarahnya, TeX (program pemformat LaTEX) diciptakan oleh Donald E. Knuth, nama yang tidak asing lagi di dunia komputer. Dia menciptakan TeX untuk mengeset teks dan formula matematika. Knuth menulis pertama kali dengan TeX typesetting engine pada tahun 1977. LaTEX pertama dibangun oleh Leslie Lamport dengan memanfaatkan TeX formatter sebagai engine-nya. Tahun 1994, LaTEX dikembangkan oleh LaTEX 3 team yang dipimpin oleh Frank Mittelbach, yang kemudian diberi nama LaTEX 2e (dibaca "Lay-Tech two e").

Saat ini LaTEX banyak digunakan di bidang matematika dan computer science karena kemampuan penulisan formulanya yang luar biasa, yang menurut saya susah ditandingi oleh Word Processor semacam Microsoft Word. Banyak textbook dan paper di bidang matematika dan computer science biasa ditulis dengan LaTEX. Selain itu dokumen dalam LaTEX juga mudah ditransfer ke dalam bentuk file pdf atau ps (postscript). Kekurangannya menurut saya, bagi orang awam, tidak cukup user friendly. Orang harus meng-compile terlebih dahulu dokumen yang ditulis dalam TeX untuk melihat hasilnya dalam bentuk file dvi. Jadi tidak bisa langsung dilihat di layar saat itu juga. Tapi yang jelas LaTEX dan TeX ini free (bebas, gratis) dan bisa jalan di berbagai platform, tidak seperti Microsoft Word yang (sebenarnya) harus bayar. Cuma, saya belum menemukan kompatibilitas antara LaTEX dengan Word Processor yang lain.

Beberapa pengalaman saya ber-"sentuhan" dengan LaTEX adalah sebagai berikut.

  1. Pertama kali mendengar dan tahu LaTEX adalah sewaktu kuliah di Informatika ITB. Kebetulan ada kuliah pengolahan citra yang dosennya mensyaratkan penulisan laporannya dengan menggunakan LaTEX. Tapi berhubung saya tidak mengambil kuliah tersebut, akhirnya saya hanya "tahu" dan "mendengar" saja dari teman-teman yang sudah mengambil kuliah itu dan membuat laporannya dalam bentuk dokumen LaTEX.
  2. Pengalaman kedua, waktu mengurus Jurnal Informatika, ada pertanyaan dari seseorang yang menanyakan bolehkan mengirim paper dalam bentuk dokumen LaTEX (atau ps/pdf sebagai turunannya). Saya bilang, berhubung standard kita pakai Microsoft Word, ya mohon maaf kita tidak bisa terima. Soalnya saya sendiri juga masih suka mengedit tulisan-tulisan sebelum masuk ke jurnal (masalah header/footer, penomoran halaman, salah ketik, section, dll). Belum kebayang waktu itu gimana caranya mengedit file LaTEX. Wong kalau dikirimi file pdf suka bingung dan kesal juga, soalnya berarti saya harus meng-copy paste dokumen tersebut untuk kemudian saya ubah jadi Word file. Jadi mendingan dikirim Word aja deh. (Belakangan saya baca beberapa jurnal/konferensi menerima juga tulisan dalam bentuk TeX file, ps ataupun pdf, cuma saya masih belum tahu bagaimana editingnya dan penyelarasannya sebelum naik cetak).
  3. Pengalaman ketiga, terpaksa juga bikin dokumen di LaTEX untuk tugas kuliah Reasoning Agents 2 di Computational Logic TUD. Sebenarnya dosen sih tidak mensyaratkan untuk pakai LaTEX. Tapi berhubung saya lihat LaTEX cukup powerful dalam penanganan penulisan formula, akhirnya saya pakai LaTEX, walaupun sebelumnya saya nulis dulu di Word, baru di-copy-paste ke LaTEX. Perintah-perintah LaTEX baru saya tambahkan berikutnya. Ternyata LaTEX tidak sesusah yang saya kira, walaupun tidak mudah juga.
  4. Sekarang saya pakai LaTEX untuk penulisan project dan thesis saya.


Yang saya heran, walauapun LaTEX ini cukup terkenal di kalangan matematikawan, informatikawan, dan computer scienticst, pemanfaatannya masih kurang memasyarakat di Informatika ITB. Yang saya tahu baru satu dosen pengolahan citra itu yang mensyaratkan penggunaan LaTEX untuk penulisan laporan tugasnya. Mungkin nanti kalau saya kembali ke Informatika ITB, saya mau pakai LaTEX juga, biar mahasiswa mengenal "dunia lain" selain Microsoft Word.

Referensi:
The Not So Short Introduction to LaTEX 2e (or LaTEX 2e in 95 minutes), by Tobias Oetiker, Hubert Partl, Irene Hyna and Elisabeth Schlegl, Version 3.20, 09 August, 2001.




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Bernd Willenberg