
Sebenarnya saya juga tidak terlalu banyak kenal dengan Pak Jusman Syafii Djamal, yang sekarang diamanahi jadi menteri perhubungan Republik Indonesia. Naiknya beliau jadi menteri, mengingatkanku pada jaman-jaman dahulu kala, waktu jadi aktivis nanggung.
Tahun 2002 (wuih, ternyata sudah lama juga), aku jadi dosen, tapi kerjaan masih suka olahraga juga di Lapangan Sabuga (Sasana Budaya Ganesha, belakang ITB). Di situ ketemu lagi dengan Alit (Khalid Zabidi), anak Seni Rupa 93 yang pernah jadi calon presiden Keluarga Mahasiswa ITB pertam, bareng Vijay (Vijaya Vitriyasa, Teknik Mesin 94) dan beberapa calon lain. Sebelumnya kenal Alit dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan lain seperti OSKM dan diklat aktivis. Terus waktu itu dia ngajakin aku ikutan panitia Kongres IA-ITB (Ikatan Alumni ITB). Belakangan, dia juga ngajakin aku bergabung sama mantan aktivis lain untuk mendukung Pak Jusman maju jadi Ketua IA-ITB.
Sebelumnya aku belum pernah kenal dan ketemu dengan Pak Jusman secara langsung. Dari Alit dan teman-teman lain, akhirnya aku tahu bahwa Pak Jusman itu dulu ternyata aktivis juga, pernah jadi caretaker Ketua Dema (Dewan Mahasiswa) ITB waktu ITB diduduki militer jaman dulu. Beliau meniti karier di Dema dari mulai jadi juru ketik sampai jadi ketua. Memang bukan tipe orator yang ulung dan berapi-api, tapi konsistensinya untuk mengembangkan diri, selalu belajar, beraktivitas, dan mengembangkan jaringan (network), belakangan hari menunjang karier beliau sebagai Direktur Utama IPTN.
Sebagai Dirut IPTN, apalagi jaman gonjang-ganjing itu, tentu saja tidak mudah bagi beliau buat mengendalikan dan mengatur IPTN agar tidak semakin hancur dan terpuruk. Dengan upayanya, beliau berusaha untuk menyelamatkan aset-aset IPTN termasuk orang-orangnya agar tidak tersia-sia. Dengan diversifikasi pada berbagai usaha yang mungkin dilakukan oleh IPTN (sampai diplesetin jadi Industri Panci dan Tempat Nasi), pegawainya pun dapat diselamatkan, pemasukan IPTN bertambah, dan hutang pun berkurang. Suatu sukses yang dirintis oleh Pak Jusman yang dia bilang bukan SD lagi, tapi SDU alias Sudah Direktur Utama

Ajang perebutan kursi ketua IA-ITB pun cukup panas waktu itu. Beberapa tokoh terkenal yang saya ingat mencalonkan diri adalah Laksmana Sukardi (waktu itu menteri BUMN), Amir Sambodo, Cyril Nurhadi (BEJ), Jusman SD (Dirut IPTN), dan Justiani (IBU Teledukasi).
Pada masa kampanye, Laksmana mengeluarkan statemen "saya barusan memecat seorang alumni ITB yang nggak becus mengelola BUMN". Dan ternyata baru saya ketahui Jusman dicopot jabatannya dari Dirut IPTN, wah pertarungannya jadi politis begini. Dan kelihatannya Laks sengaja menyingkirkan Jusman untuk memperkuat kesempatannya untuk jadi ketua IA-ITB. Yah, semenjak ketua IA-ITB sebelumnya (Cacuk Sudarjanto, Telkom) jabatan ketua jadi jabatan yang diperebutkan secara politis dan ber-"darah-darah". Laks jelas-jelas calon terkuat karena dukungan dana dan posisi sebagai menteri. Dan terbukti bahwa akhirnya Laks-lah yang jadi ketua IA-ITB sampai sekarang.
Lalu ke mana Pak Jusman? Pak Jusman sendiri pasca pemilihan ketua IA tersebut kemudian tenggelam dengan kesibukannya. Waktu beliau ditawari untuk ikutan dalam kabinetnya Laks di IA-ITB mengaku tidak tertarik. Sampai .... akhirnya saya dapat berita dari Detik.com bahwa Yusman (di situ ditulis pake Y bukan J) kemungkinan jadi menhub menggantikan Hatta Radjasa. Siapa Yusman, saya nggak kenal (karena perbedaan ejaan). Tapi setelah membaca paragraf berikutnya Yusman Syafii Djamal mantan dirut IPTN, ooh ... berarti Pak Jusman yang ini, alias Manusia Jus

Oke, semoga sukses buat Pak Jusman dengan jabatan barunya. Semoga transportasi di Indonesia bisa lebih baik lagi, angka kecelakaan bisa ditekan, dan pengusaha-pengusaha transportasi yang bandel-bandel bisa di-"jewer".
Foto: dari Pikiran Rakyat, Pak Jusman yang gundul.