|
Wikan Danar's posts with tag: indonesia
Bulan Mei adalah salah satu bulan yang banyak perayaan nasionalnya, selain bulan Oktober. Di bulan Mei ada hari Pendidikan Nasional dan hari Kebangkitan Nasional. Nah, lagi rame nih soal 100 tahun kebangkitan nasional. Emang setelah 100 tahun kini Indonesia udah bisa apa ya?
Jaman dulu, 100 tahun yang lalu, Budi Oetomo berdiri, satu-satunya organisasi pergerakan jaman itu yang memikirkan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia, sesuatu yang mungkin belum dipikirkan sebelumnya. Sebelumnya, perjuangan hanya dilakukan sendiri-sendiri, per daerah, lokal, tidak cukup kuat untuk menggempur dan mengalahkan Belanda. Dan Belanda dengan akal liciknya bisa memanfaatkan kelemahan bangsa Indonesia yang waktu itu memang gemar saling bertempur satu sama lain, sehingga saling melemahkan dan mudah dijajah oleh Belanda sampai beratus tahun lamanya.
Kesadaran sebagai bangsa, itu yang sekarang perlu ditumbuhkan lagi di Indonesia. Mestinya Indonesia bisa jadi bangsa yang besar kalau tidak memikirkan lagi soal kesukuan, agama, atau golongan. Cuma mungkin justru ini yang dilupakan oleh orang-orang Indonesia dan lebih mengutamakan egoisme serta kepentingan golongannya sendiri. Semoga Indonesia bisa bangkit kembali.
 | 21 April | Apr 18, '08 4:53 AM for everyone |
21 April Hari Kartini. Wah bentar lagi ya, hari Senin. Kebayang kalau jaman SD dulu, anak-anak pake pakaian daerah. Ada lomba-lomba aneh, macam peragaan busana daerah, lomba merangkai bunga, lomba puisi, dan lomba pidato dengan topik tentang Kartini. Mungkin kalau Kartini masih hidup sekarang bakal ngakak (atau malah nangis?) melihat hari lahirnya dirayakan dengan segitu rupa.
Hari Kartini sekarang kayak gimana ya? Apa masih kayak dulu? Di beberapa instansi macam bank, ada karyawatinya yang pake baju daerah. Di busway, supir perempuan pake baju daerah juga. Apa iya baju daerah hanya dipake pas hari kartini dan pas kawinan aja yak?
Anyway, 21 April tanggal batas akhir pengiriman proposal riset insentif ke Ristek. So many things to do ...
Mulai tahun 2007 ini, Akademi Kepolisian tidak menerima lagi calon taruna dari jenjang pendidikan SMA, melainkan dari jenjang pendidikan S1 atau S2. Tujuannya untuk menciptakan polisi-polisi yang handal dan profesional. Ya iyalah, penjahat-penjahat sudah semakin pintar dan lulusan S1 ke atas, mesti diimbangi dengan polisi-polisi yang jago juga. Aku kebayangnya kayak FBI di film-film Amerika, yang jago komputer bisa menangani hacker dan pelaku kejahatan komputer lainnya, terus yang jago ekonomi ngurusin kejahatan ekonomi seperti korupsi, insider trading dsb. Yang pinter psikologi nanganin psikopat dan pembunuh berdarah dingin macam Hannibal Lecter di Silence of The Lamb.
Lagian polisi sekarang sudah dipisahkan dari militer. Mestinya udah nggak militeristik lagi, lebih "makmur" (kan udah dapat budget sendiri dan nggak jadi anak tiri). Asal saja dibenahi dengan baik, polisi Indonesia bisa semakin oke di masa depan. Ada yang berminat jadi polisi yang profesional?
(Klik pada gambar untuk memperbesar)
 Sebenarnya saya juga tidak terlalu banyak kenal dengan Pak Jusman Syafii Djamal, yang sekarang diamanahi jadi menteri perhubungan Republik Indonesia. Naiknya beliau jadi menteri, mengingatkanku pada jaman-jaman dahulu kala, waktu jadi aktivis nanggung. Tahun 2002 (wuih, ternyata sudah lama juga), aku jadi dosen, tapi kerjaan masih suka olahraga juga di Lapangan Sabuga (Sasana Budaya Ganesha, belakang ITB). Di situ ketemu lagi dengan Alit (Khalid Zabidi), anak Seni Rupa 93 yang pernah jadi calon presiden Keluarga Mahasiswa ITB pertam, bareng Vijay (Vijaya Vitriyasa, Teknik Mesin 94) dan beberapa calon lain. Sebelumnya kenal Alit dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan lain seperti OSKM dan diklat aktivis. Terus waktu itu dia ngajakin aku ikutan panitia Kongres IA-ITB (Ikatan Alumni ITB). Belakangan, dia juga ngajakin aku bergabung sama mantan aktivis lain untuk mendukung Pak Jusman maju jadi Ketua IA-ITB. Sebelumnya aku belum pernah kenal dan ketemu dengan Pak Jusman secara langsung. Dari Alit dan teman-teman lain, akhirnya aku tahu bahwa Pak Jusman itu dulu ternyata aktivis juga, pernah jadi caretaker Ketua Dema (Dewan Mahasiswa) ITB waktu ITB diduduki militer jaman dulu. Beliau meniti karier di Dema dari mulai jadi juru ketik sampai jadi ketua. Memang bukan tipe orator yang ulung dan berapi-api, tapi konsistensinya untuk mengembangkan diri, selalu belajar, beraktivitas, dan mengembangkan jaringan (network), belakangan hari menunjang karier beliau sebagai Direktur Utama IPTN. Sebagai Dirut IPTN, apalagi jaman gonjang-ganjing itu, tentu saja tidak mudah bagi beliau buat mengendalikan dan mengatur IPTN agar tidak semakin hancur dan terpuruk. Dengan upayanya, beliau berusaha untuk menyelamatkan aset-aset IPTN termasuk orang-orangnya agar tidak tersia-sia. Dengan diversifikasi pada berbagai usaha yang mungkin dilakukan oleh IPTN (sampai diplesetin jadi Industri Panci dan Tempat Nasi), pegawainya pun dapat diselamatkan, pemasukan IPTN bertambah, dan hutang pun berkurang. Suatu sukses yang dirintis oleh Pak Jusman yang dia bilang bukan SD lagi, tapi SDU alias Sudah Direktur Utama  Ajang perebutan kursi ketua IA-ITB pun cukup panas waktu itu. Beberapa tokoh terkenal yang saya ingat mencalonkan diri adalah Laksmana Sukardi (waktu itu menteri BUMN), Amir Sambodo, Cyril Nurhadi (BEJ), Jusman SD (Dirut IPTN), dan Justiani (IBU Teledukasi). Pada masa kampanye, Laksmana mengeluarkan statemen "saya barusan memecat seorang alumni ITB yang nggak becus mengelola BUMN". Dan ternyata baru saya ketahui Jusman dicopot jabatannya dari Dirut IPTN, wah pertarungannya jadi politis begini. Dan kelihatannya Laks sengaja menyingkirkan Jusman untuk memperkuat kesempatannya untuk jadi ketua IA-ITB. Yah, semenjak ketua IA-ITB sebelumnya (Cacuk Sudarjanto, Telkom) jabatan ketua jadi jabatan yang diperebutkan secara politis dan ber-"darah-darah". Laks jelas-jelas calon terkuat karena dukungan dana dan posisi sebagai menteri. Dan terbukti bahwa akhirnya Laks-lah yang jadi ketua IA-ITB sampai sekarang. Lalu ke mana Pak Jusman? Pak Jusman sendiri pasca pemilihan ketua IA tersebut kemudian tenggelam dengan kesibukannya. Waktu beliau ditawari untuk ikutan dalam kabinetnya Laks di IA-ITB mengaku tidak tertarik. Sampai .... akhirnya saya dapat berita dari Detik.com bahwa Yusman (di situ ditulis pake Y bukan J) kemungkinan jadi menhub menggantikan Hatta Radjasa. Siapa Yusman, saya nggak kenal (karena perbedaan ejaan). Tapi setelah membaca paragraf berikutnya Yusman Syafii Djamal mantan dirut IPTN, ooh ... berarti Pak Jusman yang ini, alias Manusia Jus  Oke, semoga sukses buat Pak Jusman dengan jabatan barunya. Semoga transportasi di Indonesia bisa lebih baik lagi, angka kecelakaan bisa ditekan, dan pengusaha-pengusaha transportasi yang bandel-bandel bisa di-"jewer". Foto: dari Pikiran Rakyat, Pak Jusman yang gundul.
 Saya juga belum pernah. Stadion Jakabaring? Di mana tuh? Tapi pas ngeliat websitenya Asian Cup 2007, Stadion Jakabaring merupakan salah satu stadion yang akan digunakan untuk pertandingan Asian Cup di Indonesia, selain stadion Bung Karno, tentunya. Di wikipedia, informasi tentang stadion Jakabaring sangat singkat. http://en.wikipedia.org/wiki/Jakabaring_StadiumJakabaring Stadium is a multi-use stadium in Palembang, Indonesia. It is currently used mostly for football matches. The stadium holds 40,000 people. It was built in 2004. Stadion Jakabaring selain menjadi ajang pertandingan grup D, juga akan menjadi tempat perebutan tempat ketiga, sementara finalnya akan diadakan di stadion Bung Karno. Mungkinkah Indonesia bisa lolos sampai babak perempat final? Dengan Korea Selatan dan Arab Saudi di grup, rasanya berat buat Indonesia untuk bisa menjadi juara atau runner-up grup. Tapi kadang faktor tuan rumah bisa membalikkan keadaan. Asal saja suporter Indonesia jangan mengintimidasi tim lawan yang bisa memalukan nama bangsa. Ayo kita tunggu aksi kesebelasan Indonesia di Asian Cup 7-29 Juli 2007 mendatang. Info: http://en.wikipedia.org/wiki/2007_AFC_Asian_Cuphttp://www.afcasiancup.com/en/
Link: http://www.kotekaonline.com/papua/index.phpBuat yang pengin beli noken (tas a la papua) atau panah-panah kecil khas papua, bisa mengunjungi website ini. Yang punya namanya Marlon Esau Kambuaya, adik kelas gue waktu di informatika ITB. Dia anak asli Papua. Lama nggak keliatan ternyata buka usaha di Koteka Online. Buat yang mau beli koteka, kayaknya belum ada deh. Atau coba aja order langsung sama si Marlon, kali-kali bisa dapet. Ok, sukses buat Marlon. Buat temen2 yang berminat silakan kunjungi dan beli :)
Dari http://republika.co.id/online_detail.asp?id=290373&kat_id=23Pak Agung Laksono mengusulkan mata pelajaran agama masuk jadi syarat penentuan kelulusan di ujian nasional. Wah, usulan yang bagus Pak. Nanti yang tidak lulus tinggal dibilang agamanya nggak bagus, moralnya bejat, dsb. He he ... Gimana cara mengukur tingkat keimanan seseorang? Selama ini alat ukur di Indonesia cuman ujian tertulis saja, yang tetap saja tidak bisa memahami seluk beluk isi hati dan pemikiran seseorang. Apakah orang dengan nilai agama yang rendah, berarti keimanannya rendah? Apakah orang dengan nilai agama yang tinggi terus keimanannya lebih tinggi? Penataran P4, pelajaran PMP, pendidikan agama yang diberikan selama ini, yang cuma menitikberatkan pada kemampuan anak untuk memilih jawaban yang tepat di ujian ternyata tidak menghasilkan banyak perubahan. Mestinya pelajaran2 macam ini lebih mengolah pada sikap dan perilaku anak didik. Misalnya ketimbang diajarin di sekolahan tentang gotong royong, anak-anak diajak keluar untuk bergotong royong secara langsung membersihkan lingkungan. Daripada menunjukkan gambar nenek2 yang perlu diseberangkan, anak-anak dibawa keluar berinteraksi dengan nenek2 di panti jompo dan berbagi kebahagiaan. *** Pelajaran Agama Sebaiknya Ikut Diujikan dalam UN
Sukoharjo-RoL--
Ketua DPR Agung Laksono, mengatakan, mata pelajaran Agama sebaiknya
dijadikan sebagai salah satu syarat penentuan kelulusan yang ikut
diujikan dalam ujian nasional (UN).
"Tingkat dekadensi moral bangsa Indonesia masih belum berkurang,
meski saat ini dakwah agama begitu banyak dan pondok pesantren di
mana-mana," katanya saat peresmian Pusat Pengkajian dan Pendidikan
Agama Islam Yayasan Lailatul Qodar, di Sukoharjo, Ahad.
Ia mengungkapkan, angka kekerasan di Indoensia masih cukup tinggi,
bahkan ada sekolah yang tujuanya mencetak pamong praja justru menjadi
tempat pembantaian.
"Alangkah baiknya dalam rangka menjamin akhlak dan moral anak didik
kita di masa yang akan datang, dalam menentukan kelulusan pendidikan
agama menjadi salah satu syaratnya," katanya. Ia menuturkan, saat ini
kelulusan hanya ditentukan dari tiga mata pelajaran yang diujikan,
yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
Ia mengharapkan, pemerintah dapat mengkaji lebih dalam kemungkinan
masuknya pendidikan agama dalam UN. Dengan demikian, lanjut dia,
diharapkan para calon pemimpin bangsa lahir dari suatu proses yang
sangat mendalami disiplin ilmunya dan didukung oleh dasar keimanan
melalui pendidikan agama yang baik.
"Tingginya angka kekerasan, banyaknya pelecehan seksual, dan lain
sebagainya, mengindikasikan adanya sesuatu yang salah pada sistem
pendidikan kita," tegasnya. Ia menambahkan, pendidikan keagamaan masih
belum mendapat perhatian yang sepenuhnya dari pemerintah, dibanding
dengan pendidikan umum.
Padahal. menurut dia, pendidikan keagamaan secara kategoris masih
masuk dalam sistem perundang-undangan kita. Ia mengharapkan, di masa
yang akan datang tidak ada lagi diskriminasi terhadap hal ini.
Berita dari http://english.aljazeera.net/NR/exeres/67836901-0B46-4628-890C-FC3725D7F4CC.htmDisebutkan bahwa, dalam upaya pengurangan polusi di kota-kota besar, maka penjualan mobil-mobil baru akan dilarang. Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar mengatakan bahwa langkah ini dapat berdampak buruk pada berkurangnya tenaga kerja di bidang otomotif. Tapi ini adalah "pil pahit" yang harus diambil untuk "kesehatan" bersama. Dan seterusnya, baca aja sendiri dari sumber berita. Komentar saya ... 1. Saya kok nggak yakin, bahwa pemerintah Indonesia akan mengambil langkah sedrastis ini. Dulu saja pada saat kampanye penghematan BBM, subsidi dihapuskan, tapi tetap saja banyak mobil yang berlalu lalang di jalanan. 2. Yang mengatakan ini menteri negara lingkungan hidup, bukan menteri yang membawahi departemen. Kekuasaan kementerian negara masih di bawah departemen. Apalagi departemen perindustrian dan perdagangan pasti mencak-mencak kalau industri otomotif diganggu. Terus departemen tenaga kerja bakalan pusing juga kalau pengangguran bertambah gara2 pabrik mobil ditutup. 3. Tidak ada koordinasi kebijakan di tingkat pemerintah. Apa maksudnya menteri lingkungan hidup mengatakan hal ini? Jika memang kebijakan pemerintah adalah pengurangan polusi besar-besaran di kota besar, maka perlu upaya yang koordinatif dan gradual dalam penanggulangannya. Bukan main ambil langkah sendiri. Takutnya malah hal kayak gini jadi kontraproduktif. Misalnya, pengurangan mobil pribadi hendaknya dibarengi pula dengan peningkatan kualitas kendaraan umum. Lha sekarang alternatif kendaraan umum masih terbatas, orang lebih memilih untuk punya kendaraan pribadi. Kalau mobil dilarang, apa mau disuruh jalan kaki? 4. Pelarangan pemakaian mobil baru justru kontraproduktif, karena justru kendaraan lama lebih banyak gas buang yang polutif. Semakin lama suatu kendaraan, apalagi kalau nggak dirawat dan tidak diadakan uji emisi, makin tinggi pula polusinya. Sementara kalau kendaraan baru justru lebih bagus proses pembakarannya. Sebelumnya malah ada kebijakan pelarangan mobil usia tertentu (misal di atas 20 tahun) untuk operasional di jalan raya. Di Singapura, mobil-mobil lama juga udah gak dipakai dan biasanya "dibuang" (dijual) ke Indonesia. Saran saya sih, kalau mau bikin kebijakan kayak gini, mending dikasih pembatasan mobil baru dengan syarat tertentu (misal ramah lingkungan) yang boleh masuk ke indonesia.
Link: http://www.kalyanashira.com/longroadtoheaven/Di Amerika, banyak film yang mengisahkan tentang tragedi 9/11 baik dari sisi dokumenter maupun analisis-analisis di balik itu. Di Indonesia tragedi pengeboman di Bali menyisakan banyak luka dan prasangka, dan butuh banyak waktu untuk memulihkan semua itu. Kerugian materi mungkin bisa diganti dan dicari. Tapi nyawa yang hilang tidak akan kembali. Lalu untuk apa segala pengorbanan itu? Untuk suatu ideologi atau apa? Ataukah kemanusiaan sudah luntur demi suatu janji surga?
Long Road to Heaven, film garapan baru Kalyana Shira bukanlah film dokumenter tentang tragedi pengeboman Bali. Ia bercerita seputar dan mengambil setting saat itu. Suatu upayah yang gigih dari kaum film Indonesia untuk menjembatani hal-hal yang perlu dijembatani. Ketidakpedulian adalah salah. Penyalahan terhadap korban jauh lebih salah lagi. Semoga kita bisa saling memahami dan bergandengan tangan, merintis jalan menuju perdamaian abadi.
Setelah memuji-muji para profesor yang sudah berdarma bakti buat ilmu pengetahuan dan umat manusia, saya ingin sedikit realistis dan menyoroti kondisi perprofesoran di Indonesia yang cukup rumit. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari sekumpulan pengamatan dan pengalaman yang saya hadapi atau dari sumber-sumber di sekitar saya, jadi ya belum tentu objektif. Perlu data yang lebih lengkap dan komprehensif untuk menjadikan tulisan ini ilmiah, dan tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjadi ilmiah.
Beberapa pertanyaan dari alumni tentang ketiadaan profesor di IF membuatku berdiskusi dengan rekan-rekan sejawat. Ada apa dengan IF, setelah hampir lebih dari 20 tahun kenapa masih saja tidak ada profesor. Sementara di tempat lain yang lebih muda usianya sudah muncul lebih dari satu profesor. Beberapa menjawab klise, karena belum ada yang memenuhi syarat. Emang syaratnya apa sih? Sesulit apa? Yah, seperti halnya pegawai negeri yang lain, syarat untuk menjadi profesor ya ngumpulin kredit. Kalau pegawai negeri lain bisa ngumpulin kredit dengan kehadiran, penugasan, dll kalau dosen ya dari pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat. Mirip dengan pengajuan kenaikan pangkat, sebenarnya.
Cuman yang jadi masalah selama ini, setiap kenaikan pangkat pun mesti di-review oleh orang lain. Dan hasil review-nya kadang berarti pemotongan angka kredit di sana-sini. Bisa jadi orang yang pertama-tama sudah memenuhi angka kredit buat naik pangkat, jadi tertunda kenaikan pangkatnya gara-gara kreditnya disunat, padahal yang nyunat juga belum tentu lebih pakar ketimbang yang disunat :)
Apalagi untuk jadi profesor. Jalannya sungguh panjang dan terjal, sementara peningkatan gaji yang didapat setelah jadi profesor belum tentu sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Jadi ada yang berpikiran untuk mengejar kesejahteraan ketimbang profesorship. Toh profesorship juga gak bisa dimakan. He he :)
Ironis memang. Tapi itulah yang terjadi di Indonesia. Sebenarnya ada cara lain agar para dosen itu tidak lontang lantung dalam mengejar pangkat dan profesorship, yaitu dengan kepemimpinan yang visioner dan manajemen yang baik. Artinya seorang pimpinan kampus (entah itu rektor, dekan, atau kaprodi) harus mempunyai visi ke depan untuk mewujudkan masyarakat ilmiah yang lebih baik dan lebih maju. Artinya juga perlu dipikirkan bagaimana peningkatan kemampuan ilmiah para pengajarnya, dan ini juga berkaitan dengan kesejahteraan para dosen juga, tentunya. Pimpinan harus memikirkan dengan kondisi yang sekarang, lima tahun, 10 tahun ke depan, bagaimana trennya. Bagaimana kebutuhan akan pengajar, bagaimana kebutuhan akan kelas, dan kebutuhan-kebutuhan lain untuk menunjang kelangsungan kehidupan ilmiah di kampus. Pimpinan jangan cuma mengejar jumlah mahasiswa dan pendapatan yang didapat dari mahasiswa jalur khusus tapi melupakan nasib dosen dan karyawannya. Apalagi mencanangkan program-program yang abstrak seperti "research university" atau "enterpreneur university" tapi tidak di-follow-up-i dengan pemikiran-pemikiran yang sederhana dan realistis tentang bagaimana cara mewujudkannya dalam jangka waktu tertentu. Tidak cuma ngayawara, sekedar lips service atau biar keren, terkesan pinter/canggih dsb.
Ada orang yang bilang bahwa orang Indonesia jago perencanaan tapi implementasinya payah. Tidak, tidak. Implementasi yang gagal berarti ada sesuatu yang salah dalam perencanaannya. Entah perencanaannya terlalu global dan tidak detil atau perencanaan yang tidak memperhatikan sisi-sisi tertentu. Mestinya pimpinan punya rencana dan projeksi ke depan, dan sekaligus mengarahkan bagaimana cara mencapai tujuan. Kalau pimpinan tidak bisa begitu, buat apa jadi pimpinan :)
Manajemen yang baik juga diperlukan untuk mendata semua kegiatan dosen agar terorganisir dengan baik (dan sebenarnya tidak cuma ini saja fungsi dari manajemen). Artinya setiap kegiatan dosen, baik pengajaran, penelitian, maupun pengabdian masyarakat dapat didata dan direkap, sehingga pada saat ada pengajuan kenaikan pangkat atau profesorship, tinggal dilihat saja datanya, dan orang yang bersangkutan bisa langsung naik pangkat secara otomatis. Kenapa mempersulit apa yang bisa dipermudah? Kan mestinya universitas itu ujung tombak perubahan. Masak hal-hal yang birokratis semacam ini tidak bisa dipangkas sih.
Yah, mungkin ada sisi-sisi lain yang belum terlihat. Profesorship memang bukan sekedar soal kenaikan pangkat, tapi juga peraihan ilmu dan penyebaran pengetahuan kepada masyarakat. Untuk meraih profesor memang harus selektif, tapi seharusnya selektivitasnya lebih kepada keilmuan ketimbang soal-soal administratif dan tetek bengek angka kredit.
He he ... ada juga yang mau mencalonkan Jusuf Kalla sebagai calon presiden RI tahun 2009 - 2014. Adalah DPD Golkar Lampung yang mencalonkannya, dan merekomendasikan ke tingkat nasional. Wah kalau ini benar terjadi, maka kemungkinan di tahun 2009, Jusuf Kalla akan bersaing dengan SBY untuk memperebutkan kursi RI 1.
Kans yang bagus buat JK
Menurut saya, JK ini memang sangat pintar bermain bisnis dan politik. Dulu, pada saat terakhir konvensi Golkar, Jusuf Kalla keluar dari konvensi dan malah memilih bergabung dengan SBY untuk menjadi wakil presidennya. Banyak sebenarnya yang memilih SBY sebagai presiden, tetapi tidak JK sebagai wakil presidennya.
Pada masa pemerintahan SBY pula, JK kembali melaksanakan manuvernya dengan mencalonkan diri sebagai ketua umum Golkar. Usaha ini berhasil dan menyingkirkan Akbar Tanjung dari kursi kepemimpinan Golkar selama ini. Hal ini makin memperkuat posisi JK di mata SBY, karena dengan JK sebagai ketua umum Golkar, dapat meredam suara Fraksi Partai Golkar yang selama ini oposisi terhadap pemerintah. Dengan JK duduk di kursi ketua, maka suara Golkar menjadi beralih menjadi mendukung pemerintah. Apalagi Golkar masih tertinggi di parlemen (sekitar 20%), meskipun tidak setinggi jaman Pak Harto. Dengan Golkar di genggaman JK, maka oposisi terakhir di parlemen tinggal PDI-P.
Ternyata dalam masa pemerintahan SBY pula, JK banyak mengambil peranan penting, sehingga seolah2 bersaing dengan SBY. Sementara SBY sendiri lebih banyak diam dalam mengambil keputusan, dan JK yang banyak bermain dengan keputusan2-nya sendiri yang kadang kontroversial. Di sini kelihatannya memang JK mau mengambil alih SBY, meskipun SBY sendiri menepis ketidaksinkronan tersebut. Beberapa pihak menuding JK-lah yang menyebabkan pemerintah dan kabinet tidak kompak, karena ada "dua matahari kembar" di pemerintahan. Bahkan ada yang menyarankan, kalau ada yang perlu dipecat, maka JK-lah yang harus dipecat dari kursi wakil presiden.
Banyak yang berusaha untuk menahan diri untuk tidak mendemo presiden SBY dan menurunkannya seperti pada masa Suharto dan Abdurrahman Wahid, dengan alasan bahwa turunnya SBY akan digantikan oleh JK yang lebih "kejam" dan tidak berperasaan (kebijakan pencabutan subsidi BBM ditengarai merupakan usulan dari JK yang businessman). Sebuah logika politik yang keliru, karena sejak pemilu 2004, presiden dan wakil presiden adalah satu paket. Jadi turunnya presiden bukan berarti digantikan oleh wapresnya seperti jaman Gus Dur dan Mbak Mega, tapi ya turun dua2-nya dan dilakukan pemilu lagi.
Demikian juga, tidak mungkin menurunkan JK sebagai wapres begitu saja. Kalau JK turun, maka SBY juga harus turun, dan kemudian dilakukan pemilu lagi untuk memilih presiden dan wakilnya.
Beberapa hal yang perlu dicermati, jika JK jadi calon presiden
1. Akan jadi pertarungan seru antara presiden dengan wapresnya. Menurut saya, SBY masih favorit, sementara JK lebih banyak dominan di luar jawa.
2. JK sendiri kelihatannya kuat dengan mesin politiknya, Golkar, yang menurut saya juga masih kuat mendorong sampai tahun 2009, malah mungkin bisa naik, kalau masyarakat terkena pengaruh sentimen dan nostalgia masa lama, di mana masa Golkar memimpin dianggap sebagai masa kejayaan bangsa, ekonomi baik, sandang pangan murah. Namun di sisi lain, adalah apakah pemilihan rakyat pada Golkar berarti rakyat juga memilih calon presiden dari Golkar juga? Menurut saya belum tentu. Pemilu tahun 2004 menunjukkan bahwa capres dari Golkar berhasil dikalahkan oleh capres dari partai kecil, Partai Demokrat, meskipun Golkar memenangi pemilu.
3. Apakah Golkar tidak punya calon lain, mengingat usia JK yang sudah tua? Well, menurut saya ini juga dilema pada partai lain. Partai Demokrat masih mending, karena SBY masih lebih muda, masih bisa punya kans untuk terpilih sekali lagi, meskipun setelah SBY, juga dikhawatirkan siapa penerusnya. PDI-P diperkirakan akan mengusung Bu Mega lagi (well, you know lah). PKB mungkin mengusung Gus Dur, mungkin juga tidak. Apakah Pak Amien akan kembali dengan PAN? Bagaimana dengan PKS? Apakah Pak Hidayat atau Tifatul yang naik jadi presiden, atau Pak Didin lagi? Secara garis besar, tiap partai punya krisis kepemimpinan. Seakan tokoh partai/pemimpin partai itulah yang harus dicalonkan jadi calon presiden. Sementara ada semacam aturan, bahwa yang cocok jadi presiden adalah orang yang berpengalaman (makanya Pak Harto jadi presiden berkali2 :) ).
Anyway, langkah yang bagus buat Pak JK. Kita tunggu saja, apakah di 2009 Golkar akan mencalonkan JK menjadi presiden, ataukah Wiranto lagi, atau tokoh lain? Kita lihat saja.
==
http://www.gatra.com/artikel.php?id=99057
DPD Golkar Lampung Tetapkan Jusuf Kalla Capres 2009-2014
Jakarta, 1 November 2006 15:54
Meski Dewan Pimpinan Pusat Golkar belum secara resmi menetapkan calon presiden (capres) untuk Pemilu 2009, namun Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Lampung sudah menetapkan Jusuf Kalla sebagai capres tunggal.
Ketua DPD Golkar Lampung Alzier Dianis Thabranie, Rabu (1/11), menyatakan bahwa keputusan ini merupakan hasil rapat pleno DPD Partai Golkar Lampung, Senin malam (30 /10).
Rapat pleno sepakat untuk tidak melakukan konvensi dan menetapkan Jusuf Kalla sebagai calon tunggal presiden 2009-2014.
Rapat pleno tersebut dihadiri seluruh pengurus dari kabupaten/kota se-Lampung serta seluruh anggota DPRD dan fraksi kabupaten/kota se-Lampung.
Selain menetapkan Jusuf Kalla sebagai capres tunggal dari Golkar, rapat pleno juga mengevaluasi dukungan Golkar Lampung kepada pemerintah.
Alzier Dianis Thabranie mengatakan keputusan mencabut dukungan ini ditetapkan menyusul tidak adanya ketegasan dalam menyikapi konflik politik di daerah tersebut.
Pada Rapat Pimpinan (Rapim) Partai Golkar di Jakarta tahun 2005, 32 DPD Partai Golkar se-Indonesia mendesak Presiden untuk menunjuk caretaker, setelah keluarnya keputusan Mahkamah Agung terkait pemilihan dan penetapan pasangan gubernur dan wakil gubernur Lampung H. Sjachroeddin ZP-Sjamsuria Ryacudu.
Presiden sebenarnya sudah pernah berjanji untuk menuntaskan konflik Lampung. Janji itu dikemukakannya kepada Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla yang kebetulan menjabat sebagai wakil presiden.
Hasil rapat pleno DPD Lampung itu akan dibawa dalam Rapim II Partai Golkar pertengahan November 2006 di Jakarta.
"Kita yakin, keputusan rapat pleno DPD Golkar Lampung ini akan diterima dan ditindaklanjuti peserta rapim. Apalagi rapim merupakan rapat tertinggi setelah musyawarah nasional," kata Alzier.
selamat hari sumpah pemuda ... lucu ya, kedengarannya? emangnya kita merayakan hari sumpah pemuda, apa? seperti halnya kita merayakan lebaran atau natal? ndak ada tuh ritual khusus untuk merayakan sumpah pemuda kalaupun ada, dulu ada yang namanya upacara bendera di sekolahan lagian, sekarang orang lagi dalam suasana lebaran masih libur, man ... jadi ngapain peduli sama sumpah pemuda orang kita sudah hidup di negara suka2 ... mau pake ideologi pancasila, boleh ... mau islam, boleh ... yang komunis, juga boleh ...
mendefinisikan kembali nasionalisme indonesia, apa ya? tahun 1928 ... 28 oktober ... para pemuda indonesia berkumpul untuk menyatakan "kami bangsa indonesia" ... bukan bangsa "hindia belanda" untuk menunjukkan ini lho identitas kami sebagai bangsa yang merdeka, bukan bangsa jajahan ... meskipun secara de facto dan de jure, indonesia belum ada, dan masih di bawah jajahan belanda dengan nama "hindia belanda", tapi para pemuda itu sudah punya pikiran merdeka, bebas dari belenggu penjajah yang datang dari negara entah mana ...
nasionalisme ... hal serupa juga tengah dan telah terjadi di eropa saat itu ... perang yang berkecamuk penjajahan dan penguasaan negara datang silih berganti napoleon yang menaklukan eropa dan kemudian kalah merupakan salah satu buktinya sementara raja2 mulai digulingkan dari tahtanya, atau paling tidak dikurangi kekuasaannya, digantikan dengan bentuk republik atau monarki konstitutional ...
perang pemikiran yang mengimbas ke indonesia antara bentuk kerajaan dengan republik suatu bangsa mendefinisikan dirinya sendiri dalam asal usul yang sama dan kemudian wilayah yang jadi tempat tinggalnya menjadi negara ... maka negara timbul dari suatu kesamaan identitas asal usul penghuninya dan berangkat dari kesamaan itulah, negara terbentuk ...
bagaimana dengan indonesia? indonesia terbentuk dari wilayah yang terpisah2 ... kerajaan yang berbeda2 orang dari suku yang berbeda2 ... yang menyatukan cuma satu, dijajah Belanda maka kongres pemuda di jakarta tersebut berusaha menyatukan identitas "cikal bakal indonesia" tersebut ... bahwa kita adalah bangsa indonesia yang satu ... bahwa kita harus merdeka dan bentuk pemerintahan yang akan kita pilih adalah republik dan bukan kerajaan, karena kerajaan sudah ndak laku ... di lain pihak, malah justru kerajaan termasuk yang jadi kaki tangan dan begundal belanda untuk melestarikan penjajahannya di indonesia ... lagian, kerajaan sudah nggak nge-trend di eropa, sudah digulingkan beserta dengan revolusi prancis ...
kalau kita saat ini merenungkan kembali apa definisi nasionalisme indonesia barangkali kita memang sudah terlupa dengan masa lalu kita bahwa kita tidak berangkat dari asal yang sama bahwa kita memang berbeda-beda tapi kemudian disatukan oleh penjajahan belanda.
mungkin kita harus dijajah dulu agar bersatu ...
 | Merdeka | Aug 17, '06 5:00 AM for everyone |
Dirgahayu Republik Indonesia semoga tambah maju ...
Dresden, 17 Agustus 2006
Menyambut pengumuman SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), saya kutipkan tuliskan Pak Ahmad Muchlis, menyoroti sistem ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia yang berbasis kepada pilihan ganda, fenomena bimbingan belajar yang merebak, dan ketidaksiapan calon mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan di bangku PT.
Untuk kita renungkan ..
==
Ujian Masuk yang Merusak
Ahmad Muchlis
Sudah cukup banyak
tulisan tentang keterpurukan pendidikan Indonesia. Betapa kritisnya
pendidikan kita, khususnya pendidikan matematika, tergambar dengan
jelas dalam dua indikator berikut.
Indikator pertama adalah
hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang
diadakan pada tahun 2003. Survei tiga-tahunan ini dilakukan untuk
mengukur tingkat kesiapan anak berusia 15 tahun, yaitu usia di ujung
masa wajib belajar, dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini. Ada
empat wilayah yang menjadi fokus survei, yaitu matematika, membaca,
sains, dan pemecahan masalah. Fokus utama PISA 2003 adalah matematika.
Fokus utama PISA 2000 adalah membaca, sedangkan PISA 2006 akan
mengambil fokus utama sains.
Berdasarkan nilai tes matematika
yang diraihnya, para siswa peserta survei PISA 2003 dikelompokkan ke
dalam enam tingkatan (level) yang menunjukkan
kemahiran mereka dalam matematika. Pada Tingkatan 6, yaitu tingkatan
tertinggi, siswa memiliki kemampuan antara lain untuk mengembangkan
pendekatan dan strategi baru untuk menghadapi situasi yang berbeda dari
yang biasa. Sebagai kontras, siswa pada Tingkatan 1, yaitu tingkatan
terendah, hanya mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan situasi
yang sudah dikenal, dimana semua informasi yang relevan disediakan dan
pertanyaannya sudah terumuskan dengan jelas.
Dalam peta
tingkatan tersebut, dimanakah siswa Indonesia berada? Lebih dari
separuh siswa Indonesia, tepatnya 50,5%, berada di
bawah Tingkatan 1, 27,6% lainnya berada di Tingkatan
1, sedangkan yang berada di Tingkatan 6 secara statistik dapat
diabaikan. Sebagai perbandingan, Thailand memiliki 0,2% siswa pada
Tingkatan 6, 30,2% pada Tingkatan 1, dan 23,8% di bawah Tingkatan 1.
PISA 2003 hanya mencakup Indonesia dan Thailand di antara negara-negara
Asia Tenggara. Sebagai konsekuensi dari tujuan PISA yang telah disebutkan di atas, tes matematika yang diberikan berbeda dengan tes matematika yang lazim diberikan di sekolah. Indikator kedua, Trends in International Mathematics and Science Survey (TIMSS) 2003, lebih dekat kepada matematika sekolah yang lazim. Sebagaimana ditunjukkan namanya, TIMSS berfokus kepada matematika dan sains. Berbeda dengan PISA, TIMSS 2003 memiliki dua kelompok sasaran, yaitu Kelas 4 dan Kelas 8, dengan maksud melihat kecenderungan perubahan. Indonesia terlibat hanya pada kelompok Kelas 8.
Seperti juga PISA, TIMSS mengelompokkan peserta survei untuk wilayah matematika ke dalam empat tingkatan. Karakteristik siswa Kelas 8 pada tingkatan tertinggi, disebut tingkatan lanjut, adalah mampu mengorganisasikan informasi, membuat perumuman, menyelesaikan soal tidak rutin, dan menarik kesimpulan dengan pembenarannya dari data. Pada tingkatan terendah, siswa hanya mempunyai sejumlah pengetahuan matematika dasar. Untuk indikator kedua ini pun, posisi Indonesia memprihatinkan. Hanya 1% siswa Indonesia yang mencapai tingkatan lanjut, sementara 55% siswa hanya mencapai tingkatan terendah. Ini berarti bahwa sekitar 45% siswa tidak mencapai bahkan tingkatan terendah. Sebagai perbandingan, 93% siswa Malaysia mencapai tingkatan terendah, 6% di antara mereka mencapai tingkatan lanjut. Negara dengan prestasi terbaik dalam TIMSS 2003 matematika untuk kelas 8 adalah Singapura, yaitu 99% siswa mencapai tingkatan terendah dengan 44% di antara mereka mencapai tingkatan lanjut.
Mengapa prestasi siswa kita demikian rendah? Harus diakui bahwa ada banyak faktor penyebab dan tidak mungkin pula untuk menghilangkan semua penyebab tersebut sekaligus. Untuk keperluan perbaikan, perlu diidentifikasi sejumlah kecil faktor utama yang kemudian menjadi prioritas untuk dibenahi. Faktor utama tersebut perlu mencakup faktor-faktor yang berdampak besar pada kultur. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita adalah salah satu faktor utama yang harus dibenahi. Sebagai
konsekuensi dari tujuan PISA yang telah disebutkan di atas, tes
matematika yang diberikan berbeda dengan tes matematika yang lazim
diberikan di sekolah. Indikator kedua, Trends in International
Mathematics and Science Survey (TIMSS) 2003, lebih dekat kepada
matematika sekolah yang lazim. Sebagaimana ditunjukkan namanya, TIMSS
berfokus kepada matematika dan sains. Berbeda dengan PISA, TIMSS 2003
memiliki dua kelompok sasaran, yaitu Kelas 4 dan Kelas 8, dengan maksud
melihat kecenderungan perubahan. Indonesia terlibat hanya pada kelompok
Kelas 8.
Seperti juga PISA, TIMSS mengelompokkan peserta survei
untuk wilayah matematika ke dalam empat tingkatan. Karakteristik siswa
Kelas 8 pada tingkatan tertinggi, disebut tingkatan lanjut, adalah mampu mengorganisasikan
informasi, membuat perumuman, menyelesaikan soal tidak rutin, dan
menarik kesimpulan dengan pembenarannya dari data. Pada tingkatan
terendah, siswa hanya mempunyai sejumlah pengetahuan matematika dasar.
Untuk indikator kedua ini pun, posisi Indonesia memprihatinkan. Hanya
1% siswa Indonesia yang mencapai tingkatan lanjut, sementara 55% siswa
hanya mencapai tingkatan terendah. Ini berarti bahwa sekitar 45% siswa
tidak mencapai bahkan tingkatan terendah. Sebagai perbandingan, 93%
siswa Malaysia mencapai tingkatan terendah, 6% di antara mereka
mencapai tingkatan lanjut. Negara dengan prestasi terbaik dalam TIMSS
2003 matematika untuk kelas 8 adalah Singapura, yaitu 99% siswa
mencapai tingkatan terendah dengan 44% di antara mereka mencapai
tingkatan lanjut.
Mengapa prestasi siswa kita demikian rendah?
Harus diakui bahwa ada banyak faktor penyebab dan tidak mungkin pula
untuk menghilangkan semua penyebab tersebut sekaligus. Untuk keperluan
perbaikan, perlu diidentifikasi sejumlah kecil faktor utama yang
kemudian menjadi prioritas untuk dibenahi. Faktor utama tersebut perlu mencakup faktor-faktor yang berdampak
besar pada kultur. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa
sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita adalah salah satu faktor
utama yang harus dibenahi. Sebagaimana kita ketahui, sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita mengandalkan ujian saringan masuk. Pada perguruan tinggi negeri, ujian saringan masuk dilakukan bersama-sama sejak akhir tahun 1970-an. Saat ini, ujian bersama tersebut kita kenal sebagai SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Ujian ini merupakan pertaruhan besar bagi peserta, antara lain dalam menentukan biaya kuliah yang harus dipikul dan kemudahan peserta memperoleh pekerjaan setelah tamat. Sampai di sini semuanya masih tampak wajar. Sumber masalah adalah bahwa ujian tersebut menggunakan format pilihan ganda dengan soal-soal yang umumnya rutin.
Format pilihan ganda dan soal-soal rutin tersebut mendorong siswa untuk menggunakan jalan pintas dalam mempersiapkan diri. Alih-alih belajar dengan tuntas untuk memperoleh pemahaman akan materi ajar, siswa mempersiapkan diri dengan drill yang menekankan kepada cara cepat untuk memperoleh jawaban soal. Pokoknya jawaban yang benar diperoleh dengan cepat, tidak usahlah bertanya tentang mengapa cara cepat itu bisa dipakai. Kerutinan soal juga mendorong siswa untuk lebih banyak mempelajari soal-soal ujian sebelumnya. Dalam bahasa populer, siswa mempelajari tipe-tipe soal. Cara-cara belajar tersebut dianggap perlu dan cukup, sehingga dianggap wajar dan tumbuh menjadi kultur.
Bahwa cara belajar di atas dianggap perlu tampak dari fenomena bimbingan tes. Pada mulanya, di akhir tahun 1970-an itu, mahasiswa yang mengikuti ujian masuk dengan melalui bimbingan tes dapat dihitung dengan jari. Sekarang ini justru mahasiswa tanpa bimbingan tes yang dapat dihitung dengan jari, seolah-olah bimbingan tes adalah suatu keharusan untuk dapat berhasil dalam ujian saringan masuk.
Pola belajar siswa mempengaruhi pola mengajar guru. Siswa tidak senang bila diajak untuk mendalami materi ajar. Mereka lebih suka kalau guru mengajarkan cara mudah menyelesaikan soal. Selain siswa, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi perubahan pola mengajar guru. Pertama, persepsi masyarakat bahwa ukuran sekolah yang baik adalah banyaknya siswa yang lulus SPMB. Kedua, kebutuhan akan penghasilan yang layak membuat sebagian guru tergoda untuk terlibat dalam bimbingan tes. Sebagaimana
kita ketahui, sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita mengandalkan
ujian saringan masuk. Pada perguruan tinggi negeri, ujian saringan
masuk dilakukan bersama-sama sejak akhir tahun 1970-an. Saat ini, ujian
bersama tersebut kita kenal sebagai SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa
Baru). Ujian ini merupakan pertaruhan besar bagi peserta, antara lain
dalam menentukan biaya kuliah yang harus dipikul dan kemudahan peserta
memperoleh pekerjaan setelah tamat. Sampai di sini semuanya masih
tampak wajar. Sumber masalah adalah bahwa ujian tersebut menggunakan
format pilihan ganda dengan soal-soal yang umumnya rutin.
Format
pilihan ganda dan soal-soal rutin tersebut mendorong siswa untuk
menggunakan jalan pintas dalam mempersiapkan diri. Alih-alih belajar
dengan tuntas untuk memperoleh pemahaman akan materi ajar, siswa
mempersiapkan diri dengan drill yang menekankan
kepada cara cepat untuk memperoleh jawaban soal. Pokoknya jawaban
yang benar diperoleh dengan cepat, tidak usahlah bertanya tentang
mengapa cara cepat itu bisa dipakai. Kerutinan soal juga mendorong
siswa untuk lebih banyak mempelajari soal-soal ujian sebelumnya. Dalam
bahasa populer, siswa mempelajari tipe-tipe soal. Cara-cara belajar
tersebut dianggap perlu dan cukup, sehingga dianggap wajar dan tumbuh
menjadi kultur.
Bahwa cara belajar di atas dianggap perlu tampak
dari fenomena bimbingan tes. Pada mulanya, di akhir tahun 1970-an itu,
mahasiswa yang mengikuti ujian masuk dengan melalui bimbingan tes dapat
dihitung dengan jari. Sekarang ini justru mahasiswa tanpa bimbingan tes
yang dapat dihitung dengan jari, seolah-olah bimbingan tes adalah suatu
keharusan untuk dapat berhasil dalam ujian saringan masuk.
Pola
belajar siswa mempengaruhi pola mengajar guru. Siswa tidak senang bila
diajak untuk mendalami materi ajar. Mereka lebih suka kalau guru mengajarkan
cara mudah menyelesaikan soal. Selain siswa, ada beberapa faktor lain
yang mempengaruhi perubahan pola mengajar guru. Pertama, persepsi
masyarakat bahwa ukuran sekolah yang baik adalah banyaknya siswa yang
lulus SPMB. Kedua, kebutuhan akan penghasilan yang layak membuat
sebagian guru tergoda untuk terlibat dalam bimbingan tes. Penerimaan mahasiswa baru berdasarkan hasil ujian semata juga merupakan disincentive bagi guru. Perguruan tinggi tidak menuntut akuntabilitas guru dan sekolah. Sekolah-sekolah diperlakukan sama tanpa memandang baik-buruknya prestasi lulusan di perguruan tinggi.
Faktor-faktor di atas membuat guru pada akhirnya mengikuti kehendak siswa. Soal-soal yang diberikan hanyalah yang rutin, mengajar pun tidak lagi berorientasi pada pemahaman. Semuanya dianggap wajar.
Hal-hal tersebut pada akhirnya turun ke jenjang lebih rendah. Ujian saringan yang sangat menentukan untuk masuk ke jenjang berikutnya, soal-soal rutin serta kultur belajar dan mengajar yang mementingkan perolehan hasil secara cepat, semuanya dipandang menjadi wajar. Kita menemukan bimbingan tes untuk siswa SD. Hasil PISA dan TIMSS di atas konsekuensi sangat pantas untuk situasi seperti ini.
Kita semua tentu sadar bahwa tidak mungkin membawa kehidupan secara utuh ke pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, apa yang diberikan di sekolah lebih merupakan bekal. Agar dapat menggunakan bekal yang diberikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari siswa memerlukan transfer pengalaman belajar (transfer of learning), yaitu kemampuan untuk membawa segala sesuatu yang telah dipelajari dalam satu konteks ke konteks lain yang baru. Dalam teori belajar mutakhir, adanya transfer pengalaman belajar merupakan indikator penting bagi kualitas belajar. Soal-soal tidak rutin, dimana siswa dihadapkan pada situasi soal yang belum dikenalnya, merupakan alat untuk menilai apakah transfer tersebut terjadi. Dalam menyelesaikan soal-soal tidak rutin, siswa dituntut untuk memilih dan, bila perlu, mengembangkan strategi yang tepat. Dominasi soal-soal rutin menghambat terjadinya transfer pengalaman belajar.
Perhatikan bahwa siswa yang memiliki kemampuan pada Tingkatan 6 PISA di atas adalah siswa yang terbiasa dengan soal-soal tidak rutin. Sebaliknya, siswa yang terbiasa hanya dengan soal-soal rutin berada pada Tingkatan 1. Penerimaan
mahasiswa baru berdasarkan hasil ujian semata juga merupakan
disincentive bagi guru. Perguruan tinggi tidak
menuntut akuntabilitas guru dan sekolah. Sekolah-sekolah
diperlakukan sama tanpa memandang baik-buruknya prestasi lulusan di
perguruan tinggi.
Faktor-faktor di atas membuat guru pada
akhirnya mengikuti kehendak siswa. Soal-soal yang diberikan hanyalah
yang rutin, mengajar pun tidak lagi berorientasi pada pemahaman.
Semuanya dianggap wajar.
Hal-hal tersebut pada akhirnya turun ke
jenjang lebih rendah. Ujian saringan yang sangat menentukan untuk masuk
ke jenjang berikutnya, soal-soal rutin serta kultur belajar dan
mengajar yang mementingkan perolehan hasil secara cepat, semuanya
dipandang menjadi wajar. Kita menemukan bimbingan tes untuk siswa SD.
Hasil PISA dan TIMSS di atas konsekuensi sangat pantas untuk situasi
seperti ini.
Kita semua tentu sadar bahwa tidak mungkin membawa
kehidupan secara utuh ke pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, apa
yang diberikan di sekolah lebih merupakan bekal. Agar dapat menggunakan
bekal yang diberikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari siswa
memerlukan transfer pengalaman belajar (transfer of
learning), yaitu kemampuan untuk membawa segala sesuatu yang
telah dipelajari dalam satu konteks ke konteks lain yang baru. Dalam
teori belajar mutakhir, adanya transfer pengalaman belajar merupakan
indikator penting bagi kualitas belajar. Soal-soal tidak rutin, dimana
siswa dihadapkan pada situasi soal yang belum dikenalnya, merupakan
alat untuk menilai apakah transfer tersebut terjadi. Dalam
menyelesaikan soal-soal tidak rutin, siswa dituntut untuk memilih dan,
bila perlu, mengembangkan strategi yang tepat. Dominasi soal-soal rutin
menghambat terjadinya transfer pengalaman belajar.
Perhatikan
bahwa siswa yang memiliki kemampuan pada Tingkatan 6 PISA di atas
adalah siswa yang terbiasa dengan soal-soal tidak rutin. Sebaliknya,
siswa yang terbiasa hanya dengan soal-soal rutin berada pada Tingkatan
1. Apa yang terjadi di atas sebetulnya merugikan perguruan tinggi sendiri. Pola belajar siswa akhirnya terbawa ketika mereka sudah menjadi mahasiswa. Mereka belajar dari soal-soal ujian sebelumnya. Dosen jangan berharap akan hasil ujian yang bagus kalau soal yang diberikan adalah soal tidak rutin. Ujian masuk yang semestinya memprediksi keberhasilan studi calon mahasiswa akhirnya hanya menjadi alat untuk menyusun ranking. Mahasiswa yang dijaring melalui ujian masuk sesungguhnya belum siap untuk belajar di perguruan tinggi. Tidak aneh kalau akhirnya tingkat kegagalan studi masih tetap tinggi dan lama studi masih tetap panjang.
Sudah waktunya perguruan tinggi kita mencari alternatif lain dalam menjaring calon mahasiswanya. Pola seleksi yang mengandalkan ujian masuk semata hendaknya secara bertahap diganti dengan pola seleksi yang mengandalkan reputasi sekolah. Dalam pola seleksi seperti ini, perguruan tinggi menggunakan penilaian guru tentang kesiapan siswa untuk belajar lebih lanjut. Sekolah yang lulusannya berprestasi baik di perguruan tinggi dan penilaian guru-gurunya dapat diandalkan sepatutnya lebih diistimewakan dalam penerimaan mahasiswa baru. Sebaliknya, sekolah yang lulusannya berprestasi buruk atau penilaian guru-gurunya tidak dapat diandalkan perlu memperoleh hukuman. Pola seleksi demikian menuntut akuntabilitas sekolah dan guru, sehingga mendorong pihak-pihak tersebut untuk menumbuhkan serta menjaga kultur belajar dan mengajar yang sehat.
Bandung, 9 September 2005
Bukan berita yang aneh sih, saya sudah sering mendengar berita yang kayak gini. Di mana 1. Pemenang olimpiade sains dari Indonesia melarikan diri ke luar negeri buat melanjutkan sekolahnya 2. Negara lain mengiming2-i pemenang olimpiade dari Indonesia untuk melanjutkan studi di tempatnya dengan beasiswa plus berbagai fasilitas lainnya.
Ya itulah, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya. Indonesia masih sibuk dengan urusan2 prestasi permukaan seperti menang olimpiade ini, itu, tapi gak bisa mengurusi mereka setelah mendapatkan kemenangan. Walhasil negara2 lain yang memetik bibit2 itu untuk dipanen di negaranya. Dan Singapura memang adalah salah satu negara yang agresif dalam mengambil bibit2 baik dari Indonesia, senyampang Indonesia sendiri belum bisa membuat bibit2 itu berkembang dengan baik di negaranya.
Kalau menurut Pak Prof Yohanes Surya sih, biarin aja mereka sekolah di luar negeri. Tar kalau Indonesia sudah siap, silakan pulang ke Indonesia, dan kita bangun Indonesia rame-rame. Selama Indonesia belum siap, sayang saja ilmu mereka jika tidak bisa didayagunakan di Indonesia. Sebuah pandangan yang bagus, ketimbang merutuki mereka yang melarikan diri dicap sebagai tidak nasionalis. Suatu sikap yang kampungan, karena nasionalisme tidak bisa diukur hanya dengan ngedon terus di Indonesia. Nasionalis mana ilmuwan asal Indonesia yang menghasilkan penemuan di luar negeri di banding dengan koruptor yang mengkorupsi duit di tanah air?
==
BERITA KOTA edisi Selasa tgl 25 Juli 2006. TAK DAPAT PERHATIAN DARI PEMPROV RIAU JUARA OLIMPIADE HIJRAH Ke SINGAPURA
Tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, peraih medali emas Olimpiade Fisika tingkat Asia memilih pindah ke singapura. Bahkan dikabarkan ia pun tengah mengurus perubahan statusnya sebagai warganegara Singapore.
Purnawirman merupakan salah satu murid berprestasi di Riau.Namanya mengharumkan bangsa Indonesia dalam Olimpiade Fisika tingkat Asia di pekanbaru tahun 2004 silam. Kala itu dia menyabet medali emas. Tak cuma itu, pada 2005, Purnawirman kembali menggondol medali perunggu dalam Olimpiade Fisika tingkat internasional yang dilaksanakan di Spanyol. Atas prestasinya, Pemprov Riau memberinya Janji beasiswa menuju perguruan tinggi favorit. Tapi semua itu Cuma janji belaka. Setelah tamat SMA1 Pekanbaru thn 2005 silam, Purnawirman bersama orang tuanya dikabarkan menagih janji tersebut. Tapi, bolak-balik mengadu ke Pemprov Riau, mereka tidak mendapat tanggapan apapun. Keberhasilannya mengharumkan nama bangsa, ternyata tidak digubris.
Siapa yang tidak jengkel dengan sikap acuh tak acuh tersebut. Walhasil Purnawirman dan orangtuanya mengambil sikap tegas dengan pindah ke Singapura. Kepindahannya ini dipicu karena sudah ada jaminan beasiswa dari Pemerintah Singapura. Sekarang, purnawirman duduk di Bangku kuliah di Nanyang Technological University Singapura. Pemerintah Singapura menanggung seluruh biaya pendidikan pemuda berotak encer ini. Tidak Cuma beasiswa, malah Singapura menjamin masa depannya dengan memberikan pekerjaan yang layak buatnya. Siswa asal Riau yang berprestasi itu kini menjadi asset pemerintah Singapura. Pemerintah Singapura bahkan telah mengajak purnawirman untuk menjadi warganegaranya. Pemindahan kewarganegaraannya masih dalam proses. Anehnya sikap Purnawirman ke singapura ini malah disalahkan oleh Pemprov Riau. Dia dituding tidak melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah atas keinginannya selama ini.
Di bawah ini adalah sebuah tulisan dari sebuah milis yang ditulis oleh Mikrajudin Abdullah mengungkap sisi lain di balik prestasi Indonesia dalam olimpiade-olimpiade sains, antara lain olimpiade fisika, biologi, matematika, komputer, kimia, dan astronomi.
Banyak faktor yang menentukan kemenangan dan sukses. Para peserta olimpiade yang menang dan mendapatkan medali tidak mendapatkan prestasi yang mereka raih tanpa bantuan dan dukungan orang2 sekitarnya, termasuk pembimbing, para juri, dan panitia olimpiade sendiri.
Tulisan ini bisa dijadikan sekedar memperluas perspektif kita pada apa arti kemenangan itu sendiri. Dan lebih luas lagi, bagaimana sebenarnya permasalahan pendidikan di Indonesia yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan kemenangan-kemenangan di olimpiade sains.
==
Sisi Lain Olimpiade Sains
oleh: Mikrajuddin Abdullah
Kita patut mengucapkan selamat kepada tim olimpiade fisika Indonesia yang baru saja meraih prestasi tertinggi dalam IPhO ke-37 tanggal 8 – 16 Juli lalu di Singapura. Empat medali emas dan satu medali perak berhasil diraih dalam lomba tersebut. Prestasi ini membanggakan kita semua dan semakin meyakinkan kita bahwa kemampuan siswa-siswa kita sejajar dengan siswa-siswa dari negara yang lebih maju asal dibina dengan baik. Pembinaan yang baik juga bermakna penyediaan dana yang cukup besar bagi dunia pendidikan karena tidak kecil dana yang dikelurkan untuk melatih siswa-siswa peserta olimpiade tersebut.
Sudah banyak ulasan tentang kehebatan siswa-siswa peserta olimpiade kita oleh media cetak maupun elektronik. Pada tulisan ini saya ingin mengangkat sisi lain tentang olimpiade yang mungkin kurang muncul di permukaan. Saya ingin memaparkan proses apa yang berlangsung selama olimpiade sehingga kita bisa melihat lebih komprehensif faktor-faktor apa yang berperan dalam menentukan keberhasilan siswa meraih penghargaan.
1. Pemilihan Soal Sehari sebelum pelaksanaan ujian teori, diadakan diskusi pemilihan soal-soal (problems selection) yang akan diujikan besok. Program ini melibatkan para juri dan semua pendamping siswa. Panitia membuat bank soal yang cukup banyak, dan soal mana yang akan diujikan dirembuk secara bersama dalam ruang tertutup antara juri dan semua pendampung siswa. Di sini sering muncul perdebatan seru antara pembina dengan juri atau sesama pembina dari negara berbeda. Pasti semua pembina berkeinginan agar sebanyak-banyaknya soal yang diujikan adalah soal yang dapat diselesaikan oleh siswanya. Beberapa argumen seperti soal tidak sesuai silabus atau terlalu sulit bagi siswa sekolah menengah kadang muncul untuk menolak soal yang diperkirakan tidak sanggup dikerjakan siswanya. Program ini berlangsung berjam-jam.
Diskusi ini juga menyangkut pemberian bobot pada masing-masing soal yang akan diujikan. Pembina yang cerdik akan berusaha mengusukan bobot yang cukup tinggi bagi soal yang sekiranya dapat diselesaikan oleh siswanya dan menguslkan bobot yang rendah bagi soal yang sekiranya akan gagal diselesaikan oleh siswanya. Setelah pemilihan soal selesai, para pembina menerjemahkan soal-soal tersebut ke dalam bahasa negaranya masing-masing. Jadi yang dihadapi oleh para siswa bukan lagi soal dalam bahasa Inggris, tetapi soal dalam bahasa negaranya. Ada juga kekhawatiran bahwa penerjemahan ini memunculkan hint-hint tersembunyi bagi para siswa.
2. Tingkat Kesulitan Soal Umumnya tingkat kesulitan soal yang diujikan di IPhO tidak lebih dari pelajaran tingkat II di perguruan tinggi. Pernyataan bahwa tingkat kesulitan soal IPhO setara dengan kuliah S2 atau topik riset doktor seperti yang dimuat di media massa terlalu dibesar-besarkan. Dalam pasal #5 Statutes of IPhO versi 1999 yang dibuat di Podova, Italia disebutkan bahwa “pelajar sekolah menengah atas harus dapat menyelesaikan soal-soal kompetisi dengan menggunakan matematika standar yang diajarkan di sekolah menengah atas tanpa memerlukan perhitungan numerik yang intensif”. Sebagai contoh dalam IPhO ke-33 di Bali, dari empat soal teori yang diujikan, tiga soal setara dengan ujian fisika tingkat I dan satu soal (tentang ground penetrating radar) setara dengan ujian mata kuliah gelombang di tingkat II.
Juga dalam silabus IPhO disebutkan:
a. Untuk menyelesaikan soal-soal yang diujikan tidak boleh menuntut penggunaan kalkulus (diferensial dan integral), penggunaan bilangan kompleks dan pemecahan persamaan diferensial secara intensif.
b. Pertanyaan dapat juga menyangkut konsep dan fenomena yang tidak terkandung dalam silabus, tetapi informasi-informasi yang cukup harus diberikan sehingga para peserta yang semula tidak mengenal topik tersebut tidak merasa dirugikan.
c. Alat ekperiment khusus yang tidak terbiasa bagi peserta tidak boleh mendominasi eksperimen. Jika perlatan tersebut digunakan, maka instruksi yang teliti harus diberikan ke para peserta.
3. Diskusi Jawaban Saat siswa mengikuti ujian, para juri dan semua pembina mendiskusikan jawaban untuk masing-masing soal. Di sini pun bisa muncul perdebatan. Pembina yang bisa memprediksi arah jawaban siswa akan berusaha agar bentuk jawaban yang ia perkirakan merupakan bentuk jawaban dari siswanya dibenarkan (diberi bobot nilai). Dalam sejumlah tahapan diskusi, akan tampak sejumlah pembina sangat ngotot dan sejumlah pembina yang adem-ayem. Pembina ngotot ini biasanya telah diberi beban meraih medali sebanyak-banyaknya oleh pemerintahnya. Hasil diskusi ini menjadi patokan para juri dalam memberikan penilaian pada jawaban siswa.
4. Pemeriksanaan Jawaban Pemeriksanaan jawaban dilakukan oleh para juri. Namun para pembina juga diberi kesempatan untuk menilai sebagai bahan perbandingan. Hasil penilaian juri dan pembina didiskusikan saat tahap moderasi.
Setelah jawaban siswa dikumpulkan, maka lembar jawaban tersebut difoto copy: satu untuk juri dan satu untuk pembina. Setelah itulah juri melakukan koreksi dengan mengacu pada jawaban yang telah disepakati sebelumnya.
Proses serupa terjadi pada saat pelaksanan ujian ekperimen. Hanya di sini tidak ada proses pemilihan soal, karena perubahan soal akan mengganti alat eksperimen yang akan digunakan, dan ini tidak mungkin. Jenis eksperimen menjadi hak prerogatif panitia. Yang didiskusikan sebelum ujian eksperimen hanya redaksi kalimat dalam petunjuk eksperimen serta bobot nilai tiap-tiap tahap. Saat eksperimen berlangsung, juri dan semua pembina mendiskusikan jawaban, termasuk menduskusikan berapa nilai yang harus diberikan jika jawaban yang diberikan siswa tidak tuntas.
5. Moderasi Moderasi merupakan salah satu tahap yang paling seru dari keseluruhan tahap olimpiade. Hasil penilaian juri dan pembina siswa dibandingkan. Jika pembina merasa juri memberikan nilai yang lebih rendah dari nilai menurut dia, maka ia bisa berargumentasi. Seluruh kekuatan argumentasi dikerahkan untuk menambah nilai siswa. Sebaliknya, jika nilai yang diberikan juri lebih tinggi dari nilai perkiraan pembina, biasanya langsung dilewati. Hasil dari moderasi umumnya peningkatan nilai siswa. Pembina yang pandai berargumen dapat menghasilkan tambahan nilai yang sangat signifikan bagi siswanya dalam proses moderasi ini. Sebaliknya, pembina yang kalem dan kurang percaya diri dalam bahasa Inggris biasanya tidak mendapatkan tambahan nilai yang berarti.
Tahap moderasi sedikit membiaskan objektivitas juri. Juri yang semula memberikan penilaian objektif pada jawaban seluruh siswa menjadi kurang objektif lagi. Intervensi pembina bisa memberikan tambahan nilai yang berbeda bagi peserta dari negara yang berbeda. Pernah dalam salah satu olimpiade, pembina dari sebuah negara sempat menangis-nangis agar nilai siswanya dinaikkan oleh juri pada proses moderasi ini. Pembina tersebut sudah kehabisan bahan argumentasi dan dia merasa nilai akhir siswanya masih belum memuaskan.
6. Pertemuan Akhir Pertemuan akhir dihadiri oleh juri dan semua pembina. Pertemuan ini juga akan seru karena akan menentukan batas nilai bagi peraih emas, peraih perak, dan peraih perunggu. “Yang agak aneh” di sini adalah jumlah medali yang dibagikan tidak ditentukan dari awal. Jumlah medali yang dibagikan bergantung pada kesepakatan dalam pertemuan akhir ini.
Pembina yang menduga siswa-siswanya tidak bertengger di rangking atas akan berusaha mati-matian agar batas nilai untuk meraih medali emas direndahkan sehingga siswanya dapat menggondol medali emas. Setelah itu ia berusaha agar batas perak diturunkan jika ia menduga siswanya tidak bertengger di rangking atas setelah siswa peraih emas dikeluarkan dalam daftar. Begitu pula dengan batas peraih perunggu. Siswa-siswa yang tidak meraih medali emas, perak, maupun perunggu hampir semuanya akan diberi penghargaan honorable mention. Jadi semua peserta olimpiade akan mendapat penghargaan. Tidak ada yang pulang dengan tangan hampa.
Pada IPhO ke-33 di Bali tahun 2002, jumlah peserta adalah 296 orang. Jumlah peserta peraih medali emas adalah 42 orang, peraih medali perak 37 orang, peraih medali perunggu adalah 58 orang dan honorable mention 68 orang (Total 296 orang). Tampak di sini bahwa meraih medali emas dalam IPhO bukan berarti siswa tersebut berada di rangking-rangking atas, misalnya “top ten”. Seperti dalam IPhO di Bali, siswa pada rangking 42 juga memperoleh medali emas.
Pemberian medali ini berbeda dengan kebiasaan dalam lomba yang sering kita jumpai di mana jumlah medali biasanya sudah ditentukan dari awal, misalnya emas 1 medali, perak 1 medali, perunggu 1 atau 2 medali, sehingga yang menggondol emas benar-benar yang menempati posisi puncak, penggondol perak adalah yang menempati posisi kedua dan penggondol perunggu adalah yang menempati posisi ketiga. Tidak ada tawar menawar untuk menjadikan medali emas lima buah sehingga yang menempati rengking satu sampai lima mendapat medali emas. Dalam olimpiade fisika, bisa terjadi saat ini jumlah peraih emas 20 orang, tahun berikutnya 30 orang, tahun lainnya 50 orang, dan seterusnya. Hal itu semata-mata bergantung pada kesepakatan antara juri dan pembina berapa batas bawah nilai untuk masing-masing peraih medali.
7. Ke Mana Para Siswa Pada uraian di atas kita melihat aktivitas para pembina selama olimpiade berlangsung. Lalu apa kegiatan siswa? Kegiatan siwa tidak banyak: mengikuti test tertulis dan test eksperimen, setelah itu selesai. Setelah mengikuti dua test tersebut para siswa biasanya diajak piknik. Hampir seluruh waktu olimpiade diisi oleh para pembina. Pembina dapat berperan besar menjadikan siswanya meraih medali emas, perak, atau perunggu. Sebagai contoh, dia bisa mengubah siswanya yang semula berada pada daftar peraih perak menjadi peraih emas, atau yang semula berada pada daftar peraih perunggu menjadi peraih perak. Beda nilai peraih emas dan perak tidak terlalu besar. Jika dalam proses moderasi dia berhasil mendapatkan tambahan nilai nol koma sekian, maka bisa jadi tambahan tersebut menyebabkan siswa masuk dalam daftar peraih emas.
8. Pelajaran yang dipetik Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini terjadi euforia olimpiade di semua daerah Indonesia. Rasanya tidak afdol jika sebuah daerah belum memiliki siswa peraih medali olimpiade dari daerahnya. Segala usaha dilakukan seperti pelatihan khusus bagi sejumlah siswa berprestasi. Daerah-daerah kaya tidak ragu-ragu menggelontorkan dana besar hanya untuk melatih beberapa siswanya agar dapat meraih medali dalam olimpiade, baik nasional maupun internasional. Olimpiade sudah dijadikan simbol keberhasilan pendidikan di daerah tersebut. Karena mengutamakan simbol ini, praktek tidak terpuji sudah mulai muncul. Dalam olimpiade sains nasional di Jakarta tahun 2005 salah seorang joki tertangkap saat olimpiade berlangsung. Ia memakai nama palsu seolah-olah sebagai pembina salah satu tim di propinsi wilayah timur dengan maksud bisa memperjuangkan para siswa dari tim tersebut bisa meraih angka tinggi dalam olimpiade. Ternyata yang bersangkutan dikenal sebagai seorang dosen bergelar doctor di perguruan tinggi negeri terkenal di Jakarta.
Sifat ini tidak seharusnya terjadi. Olimpiade tidak merepresentasikan kemajuan pendidikan suatu daerah atau kemajuan pendidikan bangsa kita. Yang meraih prestasi dalam olimpiade hanya satu dua orang siswa yang telah dilatih secara khusus dan ketat dalam waktu yang lama bahkan sampai mengesampingkan pelajaran-pelajaran lain di sekolah. Padahal jumlah siswa di Indonesia yang masih berada pada tingkat kemampuan yang sangat rendah ada puluhan juta orang. Prestasi emas dalam IPhO bukan berarti taraf pendidikan negara kita sudah sejajar dengan negara yang lebih maju. Ini salah kaprah. Presetasi emas itu hanya diraih oleh siswa yang telah ditraining secara khusus dengan dana cukup besar dan dalam waktu yang cukup lama (bisa sampai setahun). Tetapi puluhan juta siswa lainnya masih berada pada tingkat pendidikan yang sangat rendah.
Pelajaran yang diambil dari pelaksanaan olimpiade sebenarnya hanya satu. Siswa-siswa kita memiliki potensi. Apabila dibina secara baik maka mereka dapat meraih prestasi yang sama dengan siswa di negara yang lebih maju. Pembinaan secara baik ini bermakna perbaikan sistem pendidikan termasuk penyediaan anggaran pendidikan yang cukup. Jika tidak dilakukan kita hanya melihat siswa-siswa kita berhasil meraih emas di olimpiade sementara tingkat pendidikan kita makin terpuruk. Jangan sampai desas-desus yang muncul sekarang adalah benar, yaitu keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade ini semata-mata ingin memperlihatkan bahwa Indonesia juga memiliki prestasi, karena tidak ada lagi prestasi lain yang bisa diperlihatkan kepada dunia.
Dari: http://www.suaramerdeka.com/harian/0607/24/nas01.htmHabis Piala Dunia, marilah kita menengok kondisi persepakbolaan di tanah air. Dari sisi prestasi, kelihatannya tidak banyak yang berubah. Namun marilah kita memotret sisi penyelenggaraan pertandingan dan mentalitas dari penontonnya.  Penonton mengamuk, sudah jadi tontonan umum di Indonesia. Contohnya penyelenggaran Liga Indonesia di Batang ini, penonton mengamuk gara-gara pertandingan antara PSIS Semarang dengan Persiba Balikpapan dibatalkan. Perihal pembatalan pertandingannya sendiri, gara-gara penonton yang meluber sampai keluar lapangan yang membuat konsentrasi permainan terganggu. Persiba menolak bertanding dalam kondisi demikian. Hingga akhirnya pertandingan pun dibatalkan oleh pihak penyelenggara menyusul telepon dari panitia di Solo bahwa Arema Malang menolak bertanding dengan Persik Kediri di Stadion Manahan Solo pada waktu yang bersamaan. Dan penonton pun mengamuk, merusak stadion. Supporter Indonesia jangan-jangan lebih brutal daripada Hooligan Inggris. Tapi kenapa kebrutalan semacam ini yang ditiru sih. Bukan prestasi persepakbolaan Inggris yang ditiru, tapi malah aksi-aksi brutal yang merugikan banyak pihak. Bagaimana Indonesia bisa menyelenggarakan event internasional, jika penontonnya masih bersikap demikian. Tahun depan kita akan menggelar Piala Asia. Moga-moga kondisinya bisa lebih tertib, dalam menyambut tamu-tamu dari negara lain. Viva Fair Play! Gambar: Ribuan pendukung PSIS Semarang, Minggu (23/7),
mengamuk di Stadion Moh Sarengat, Batang karena pertandingan terakhir babak
delapan besar Liga Indonesia 2006 antara PSIS melawan Persiba Balikpapan
ditunda. Kemarahan suporter dilampiaskan di antaranya dengan merusak gawang.
Daripada ngributin Miss Indonesia yang gak jelas juntrungannya, ini nih prestasi nyata anak bangsa ...
=== Medali Emas
Indonesia meraih 4 medali emas dalam The International Physics Olympiad ke-37
Singapore 8 s/d 17 Juli 2006
Siswa kita: Jonathan Mailoa menempati peringkat pertama (The Absolute Winner) dari 386 siswa terbaik dunia (84 negara).
Tim akan tiba di Jakarta hari Senin, 17 Juli 2006 jam 15:30 dengan pesawat Garuda 829.
berita dari Prof. Johanes Surya.
Link: http://www.kompas.com/gayahidup/news/0606/17/185422.htmMungkin gara-gara orang Indonesia suka menyingkat-nyingkat nama termasuk nama kota, seperti Ogan Komiring Ilir jadi OKI, Ogan Komiring Ulu jadi OKU, maka kota Bandar Lampung yang dulunya bernama Tanjungkarang Telukbetung, jadi disingkat Tante.
Istilah kota Tante ini jadi olok-olokan orang dari kota lain, ditambah-tambahin jadi Tante Girang. Sementara orang di kota Tante sendiri jadi risih dengan julukan itu.
Akhirnya pada tahun 1965, melalui rapat anggota panitia ad hoc DPRD Gotong Royong, nama Kota Praja Tanjungkarang-Telukbetung (Kota Tante) akhirnya diubah jadi Bandar Lampung. Pencetus nama Bandar Lampung adalah Barlian Pangeran Raja di Lampung dan Rustam Effendi.
Jadi, generasi muda sekarang mungkin baru tahu kalau Kota Bandar Lampung pernah bermana kota Kota Tante. Dan tentunya mereka juga akan terkekeh-kekeh. Kota Tante siapa mau?

Link: http://www.juwonosudarsono.com/Pak Menteri Pertahanan Indonesia, Juwono Sudarsono, punya blog juga. Isinya ada yang personal, ada yang berkaitan dengan jabatan dia. Ditulis dalam bahasa Inggris, tapi postingannya juga belum banyak sih. Yang mbantuin bikin katanya salah satu anaknya. Ternyata ada juga pejabat Indonesia yang punya blog sendiri 
|