|
Wikan Danar's posts with tag: ilmuwan
Barry James Marshall adalah seorang profesor klinik mikrobiologi di University of Western Australia. Pada tahun 1981 ia bertemu dengan Robin Warren, seorang patologis yang mendalami bidang gastritis selama pelatihan di Royal Perth Hospital. Bersama Warren, Marshall mengembangkan penelitian yang mnghubungkan keberadaan bakteri spiral dan gastritis (penyakit maag). Di tahun 1982 mereka mengeluarkan teori antara hubungan keberadaan bakteri spiral (Helicobacter pylori) sebagai penyebab penyakit gastritis dan peptic ulcer.
Masyarakat kedokteran menertawakan teori mereka. Bagaimana mungkin bakteri bisa hidup dalam lambung yang kondisinya sangat asam. Sebelumnya (dan mungkin juga sampai sekarang), orang awam dan masyarakt kedokteran mempercayai bahwa maag disebabkan karena stress, makanan pedas, peningkatan asam, atau telat makan. Tetapi Marshall tidak main2 dengan teorinya. Untuk membuktikannya, ia meminum secawan mangkuk yang berisi bakteri Helicobacter pylori dan seketika ia menderita gastritis.
Ia sembuh dua minggu setelahnya. Tapi istrinya memaksa dia untuk meminum antibiotika untuk membunuh bakteri yang tersisa, gara2 mulutnya bau (halitosis) yang merupakan dampak dari infeksi bakteri H. pylori.
Di tahun 1984, eksperimen ini muncul di Australian Medical Journal dan termasuk artikel yang paling sering dikutip.
Marshall dan Warren masih meneruskan penelitiannya tentang H. pylori.
Tahun 2005, Karolinska Institute di Stockholm menganugerahi Marshall dan Warren penghargaan Nobel dalam bidang kedokteran untuk penemuan bakteri H. pylori dan peranannya dalam penyakit gastritis dan peptic ulcer.
Sampai sekarang mereka masih meneliti tentang bakteri itu.
Bayangkan ... Pertama kali mengeluarkan teori, dan semua orang menertawakannya, menganggapnya tidak ilmiah dan tidak masuk akal. Hingga terpaksa meminum bakteri untuk membuktikan teorinya. Puluhan tahun bekerja keras dengan penuh ketekunan dan konsistensi, yakin pada teori yang ia keluarkan. Hingga akhirnya masyarakat dunia menghargainya dan memberikan penghargaan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan. Dan mereka masih saja meneruskan pekerjaan mereka. Penghargaan Nobel bukan akhir dari segalanya.
Berapa banyak dari kita yang cepat merasa puas akan hasil yang kita capai? Berapa banyak dari kita yang merasa cepat lelah dan cepat bosan karena hasil yang tidak segera tercapai? Berapa banyak dari kita yang merasa terhina atas celaan atau kritikan orang sehingga kita mengurungkan niat dan kerja kita? Berapa banyak dari kita yang tidak melanjutkan pekerjaan, bersenang2 setelah merasa kesuksesan telah tercapai?
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman Dr Marshall dan Dr Warren dalam pencapaiannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia. Bahwa untuk meraih keberhasilan dibutuhkan konsistensi dan keyakinan, bahkan setelah keberhasilan itu telah dicapai.
Tulisan ini didedikasikan buat para profesor yang telah banyak berbuat jasa baik buat umat manusia dan kemajuan ilmu pengetahuan, sekaligus telah menginspirasi saya untuk berbuat lebih baik lagi. Mungkin mau saya bikin berseri, tapi aah .. lihat nanti saja :)
Saya tidak terlalu banyak mengenal profesor. Apalagi di IF belum ada seorang profesor pun yang dihasilkan. Entah karena apa. Mungkin ini pun akan saya tuliskan di tulisan saya yang lain. Yang jelas, ternyata setelah saya pikir2, saya telah mengenal seorang profesor sebelum saya masuk perguruan tinggi.
Beliau bernama Prof Tarwotjo. Sosok yang sederhana dan patut diteladani. Banyak orang bertanya2 apa sebabnya seorang profesor mau memimpin sebuah SMA? Biasanya kan kalau sudah profesor ya tempatnya di universitas, memimpin riset, lab, atau memimpin universitas itu sendiri. Tetapi Prof Tarwotjo lain, beliau mau turun tangan untuk menjadi kepala sekolah pertama di SMA Taruna Nusantara, menuangkan ide-idenya untuk membantu mewujudkan sekolah yang cemerlang (excellent). Walaupun tak mudah, mungkin ... seperti yang pernah dituangkan oleh beliau dalam buku catatan hariannya yang kemudian diterbitkan secara terbatas.
Hari-hari beliau lalui dengan menata kehidupan berasrama di sekolah. Walaupun itu menyebabkan beliau harus berpisah dengan keluarganya yang di Jakarta. Ada candaan beliau ... biasanya saya mengunjungi anak saya yang lagi ngekos ... tapi sekarang saya yang ngekos di Magelang, dan dikunjungi istri dan keluarga saya ...
Tidak mudah memang untuk mewujudkan idealisme. Butuh pengorbanan dan sekaligus sikap bijaksana. Wawasannya yang luas menginspirasi para siswa untuk berpikir multilateral. Tentang wawasan kebangsaan, kejuangan, dan kebudayaan ... Luar biasa. Bahkan kami yang waktu itu pun masih siswa SMA, tidak mampu menerima samudra pemikiran beliau yang begitu luas, kewaskitaan dan kebijaksaan seorang maha guru.
Sangat menginspirasi ... Dan ternyata pertemuan berikutnya dengan seorang profesor yang lain membuat saya mampu menarik korelasi antara profesor pertama saya ini dengan sang profesor kedua. Keduanya sama2 idealis, dan kedua2-nya sama2 rela berkorban untuk pencapaian cita-cita yang lebih tinggi. Meskipun tidak berarti harus berada di perguruan tinggi, kedua2-nya mampu menginspirasi orang2 yang di sekitarnya.
Saya belajar bahwa semakin tinggi ilmu, semakin merunduklah orang. Bagaikan ilmu padi. Dan tempat untuk memberikan sumbangsih kepada negara, ilmu pengetahuan, dan pendidikan tidaklah selalu di perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun. Di Amerika, seorang profesor bisa saja menjadi guru TK untuk bisa memberikan ilmunya buat masyarakat. Seorang profesor bukanlah menara gading Dia adalah mercu sura yang menerangi sekitarnya Dia harus mampu menginspirasi dan menggerakkan orang2 sekitarnya.
Seorang profesor bukanlah keangkuhan dan puncak segala ilmu Tapi profesor adalah segala kebijakan dan sumber telaga yang memberikan air kesejukan buat orang2 yang dahaga ...
Vivat Professores ... Hiduplah Para Profesor ...
(mungkin berlanjut ... :) )
|