
Entah kenapa Hollywood akhir-akhir ini semakin sering mengeluarkan film2 epik yang semakin berdarah-darah. Mungkin terinspirasi oleh keberhasilan Lord of The Ring, Kingdom of Heaven, Troy, Apocalypto kini muncul 300 sebagai film yang mengangkat kisah (fiksionalisasi) sejarah, dengan penggambaran yang berdarah-darah.
300 adalah judul film adaptasi sebuah novel grafis 300 karangan Frank Miller yang mengisahkan Perang Thermopylae pada tahun 480 SM. Berkisah tentang Raja Sparta Leonidas beserta 300 prajuritnya yang berjuang melawan Raja Persia Xerxes dengan sejuta prajuritnya. Pengorbanan Leonidas dan prajuritnya ini menginsipirasi Yunani untuk bersatu melawan penjajahan Persia. Di Sparta, Ratu Gorgo berkampanye untuk menggalang dukungan buat suaminya.
Itu garis besarnya. Namun di balik pembuatan film tersebut ada kontroversi dan kritik, karena bagaimanapun film tersebut tidak terlepas dari keinginan orang yang berada di belakangnya untuk menonjolkan sisi tertentu. Jadi film itu bukanlah semata-mata film sejarah, tapi mempunyai nilai-nilai yang disampaikan.
Misal, Ephraim Lytle, asisten profesor sejarah Helenistik di Universitas Toronto menyatakan bahwa penggambaran Persia sebagai monster dan Yunani non-Sparta lemah merupakan gambaran yang bermasalah dan aneh dari sudut pandang sejarawan Yunani kuno.
Touraj Daryaee, asociate profesor Sejarah Kuno di California State University, juga menyoroti tema sentral film, tentara Sparta yang "merdeka" dan "pecinta demokrasi" melawan "budak" Persia. Daryaee berpendapat bahwa Achaemenid (Persia) menyewa dan menggaji orang-orangnya tanpa mempedulikan jenis kelamin atau etnis, sementara Yunani abad kelima, kurang dari 14% populasi berpartisipasi dalam demokrasi, dan hampir 37% adalah budak. Dia juga menambahkan bahwa Sparta adalah "negara monarki militeris, bukan demokrasi" dan mempunyai banyak budak (kaum Helot).
Sejak pembukaannya, 300 telah menimbulkan kontroversi dalam penggambaran Persia kuno, dan berbagai kritikus, wartawan, dan pejabat pemerintahan Iran telah mengutuk film ini. Persia digambarkan sebagai pasukan barbar, sementara Raja Xerxes digambarkan sebagai sosok andragoni, hal yang bertentangan dengan maskulinitas pasukan Sparta.
Dimitris Danikas, kritikus film Yunani, menyatakan bahwa film yang menggambarkan pasukan Persia sebagai bangsa yang haus darah menunjukkan instink rasisme bangsa Eropa dan Amerika.
Sementara dari Iran sendiri, menyoroti reaksi keras rilis film 300 yang bertepatan pada Nourouz, tahun baru Persia, serta kekaisaran Achaemenid (yang menjadi antagonis di film ini) yang termasuk lembaran emas dalam sejarah Iran. Berbagai sorotan menanggapi film ini, sebagai gambaran "perang peradaban" (clash of civilization) antara barat dengan timur, apalagi jika dikaitkan dengan kondisi kontemporer di mana intensitas konflik tengah memanas di teluk Persia.
Sumber:
300