Dari
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/28/0104.htmPLTS (Pusat Listrik Tenaga Sampah) akan segera dibangun di Bandung, menyusul krisis sampah yang terjadi di Bandung baru-baru lalu yang mengangkat Bandung menjadi salah satu kota metropolitan terkotor di Indonesia.
Sampah memang selalu jadi masalah. Dan gagasan pembangunan PLTS di Bandung ini bisa dianggap sebagai langkah baik dalam penyelesaian masalah sampah di Bandung. Namun kritik juga menerpa projek ini. Jika sampah menjadi bahan baku PLTS, maka akan ada kecenderungan masyarakat untuk memproduksi sampah sebanyak2-nya. Jangan2 nanti bakalan ada kampanye, ayo produksi sampah sebanyak2-nya, biar listrik di rumah Anda tidak byar pet. Walhasil segala barang disampahkan, dibuang begitu saja tanpa pemikiran untuk melakukan pengurangan produksi sampah.
==
PLN Akan Beli Listrik PLTS yang
Dibuat ITB
BANDUNG, (PR).-
Perusahaan Listrik Negara (PLN) siap membeli listrik hasil pengolahan sampah yang akan
dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk langkah awal, Rektor ITB, Djoko
Santoso dan Plt. Direktur Utama PLN, Djuanda Nugraha Ibrahim, sepakat untuk bekerja sama
dalam hal kajian kelayakan dan desain pembangkit listrik dengan bahan bakar sampah.
Kesepakatan itu tertuang dalam perjanjian kerja sama yang ditandatangani keduanya,
Kamis (27/7) di Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari Bandung. Menurut Plt Dirut PLN,
pengolahan sampah menjadi energi listrik ini, harus segera diwujudkan. "Tahun depan
harus sudah terwujud," tutur Djuanda.
Apalagi, kata Djuanda, banyak investor yang tertarik untuk mendanai pengolahan sampah
kota menjadi energi listrik. Rencananya, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) yang
dibangun mempunyai kapasitas 30 megawatt (MW). "Kapasitas ini merupakan yang
menguntungkan," ungkapnya.
Biaya yang diperlukan untuk membangun PLTS tersebut, diperkirakan mencapai Rp 11 miliar
per MW, termasuk modal kerja selama tiga bulan. Selain itu, biaya ini juga mencakup
penyediaan air baku dan sumbangan angkutan sampah Rp 10.000,00 per ton. Namun, pembiayaan
yang dianggarkan tersebut belum termasuk biaya pembebasan lahan dan infrastruktur
transportasi sampah. Pembiayaan itu diasumsikan akan dibebankan kepada pemerintah.
Menurut dia, PLN dan ITB sama-sama mempunyai kepentingan dalam hal pengolahan sampah.
Kebutuhan listrik dan ketersediaan teknologi merupakan benang merah yang menghubungkan
kedua pihak tersebut. Namun begitu, kajian kelayakan pembangunan PLTS tersebut perlu
dilakukan. Sebab, pelaksanaan teknologi ini membutuhkan keberlanjutan (sustainability).
Pendapatan dari program ini diperkirakan 5 dolar AS per ton CO2 ekuivalen. PLN
berencana membeli listrik hasil olahan ini dengan harga Rp 425,00 per kilowatt hour
(kwh). Dengan demikian, projek ini mempunyai IRR (internal rate return) sebesar 22
persen, dan NPV (net present value) Rp 167 miliar pada tahun ke 10 dengan payback
periode 4,45 tahun.
Menanggapi hal ini, Rektor ITB, Djoko Santoso mengatakan projek ini merupakan projek
yang menjanjikan dan dapat dijamin keberlangsungannya. ITB, lanjut Djoko, telah menyiapkan
dana Rp 200 juta untuk studi kelayakan pembangunan PLTS. "Kesempatan ini merupakan
tantangan bagi ITB untuk menciptakan teknologi pengolahan sampah menjadi listrik, tidak
hanya teori," tuturnya.
Kepala Pusat Rekayasa Industri, Dr. Ir. Ari Darmawan Pasek, mengungkapkan, potensi
listrik sampah Bandung diasumsikan mempunyai nilai kalori 1.500-2.500 kkcal/kg dengan
efisiensi pembangkit 25 persen. Energi listrik yang dihasilkan per ton sampah per hari
sebesar 18-30 kw. Selain menambah pasokan listrik, manfaat dari pengolahan sampah ini
adalah meniadakan emisi gas rumah kaca sebesar 120.000 ton CO2 ek/tahun. "Residunya
hanya 2-3 persen," tuturnya.
Kajian yang akan dilakukan juga merupakan upaya untuk menentukan lokasi pembangkit yang
sesuai di Bandung. "Lokasi yang dibutuhkan seluas 1-2 hektare," tambahnya.
Selain itu juga dimaksudkan untuk mengembangkan desain dasar (basic design) sistem
pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar sampah.
Ari mengatakan, pihak terkait yang akan terlibat dalam pembangunan PLTS selain PLN
adalah PT Nusantara Turbin dan Propulsi, PT Barata, PT PAL, PT Pindad, dan PT Basuki
Pratama Engineering.