Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 1, '12 3:16 AM
for everyone

Orang bertanya, kapankah cukup berarti cukup?

Kata orang, cukup itu kalau kita sudah mendapat semua kebutuhan kita, semua keinginan kita, kita sudah merasa nyaman dan merasa sudah berada pada puncak tertinggi karier kita. Kita merasa sukses. Bahagia di dunia dan Insya Allah bisa bahagia di akhirat.

 

Tapi kapan cukup tidak berarti cukup?

Apakah orang bisa merasa cukup dan puas dengan apa yang dimilikinya sekarang?

Bukankah tabiat orang untuk tidak pernah puas? Jika diberi satu gunung emas pun, maka manusia akan meminta dan berusaha mendapatkan satu gunung emas lagi. Dan begitu seterusnya.

 

Manusia juga jago mengeluh. Apa saja dikeluhkan. Sudah dikasih segala harta benda dan kesejahteraan masih saja mengeluh serba kurang ini itu. Manusia yang tidak pernah puas dan suka berkeluh kesah.

 

Tapi kala kita merasa cukup pun kita disalahkan. Apa maknanya? Pada saat kita merasa diri kita cukup, kita berhenti belajar dan berusaha. Pada saat diri kita merasa cukup, bisa timbul kesombongan bahwa diri kita telah cukup baik tanpa ada usaha untuk bertambah baik. Pada saat kita merasa cukup kita tidak mampu lagi mengoreksi dan mencari sisi salah pada diri kita. Pada saat kita merasa cukup, kita berhenti untuk kemudian melayu, meredup dan tak berkembang. Padahal hidup terus berjalan dan diri kita tumbuh dengan segala potensi yang kita miliki.

 

Belajarlah untuk mengetahui kapan merasa cukup dan kapan merasa tidak cukup, supaya hidup bisa menjadi dinamis, seimbang, dan berkembang. 


teguhindonesia wrote on Feb 1
setuju sama mas wikan, mungkin sebaiknya kita jangan sampai memiliki sikap merasa cepat puas ya...
roelworks wrote on Feb 1
enough is never enough ...
wikan wrote on Feb 1
setuju sama mas wikan, mungkin sebaiknya kita jangan sampai memiliki sikap merasa cepat puas ya...
tergantung puas terhadap apa :)
wikan wrote on Feb 1
enough is never enough ...
the world is not enough :)
faziazen wrote on Feb 2
Hanya sedikit sekali orang yang memiliki standar yang tinggi (impian tinggi, selera tinggi, tuntutan tinggi), yang belajar dan bekerja dengan kesungguhan yang sesuai dengan ketinggian standarnya.

Orang yang standarnya tinggi, tapi kesungguhannya rendah, akan merasa minder karena jarak yang mengecewakan antara standarnya yang tinggi dan kualitas hidupnya yang jauh dari sesuai.

Dan itulah yang menjadikannya pemarah dan pemrotes terhadap segala sesuatu yang lebih baik daripadanya.

--Mario Teguh--
wikan wrote on Feb 2
Hanya sedikit sekali orang yang memiliki standar yang tinggi (impian tinggi, selera tinggi, tuntutan tinggi), yang belajar dan bekerja dengan kesungguhan yang sesuai dengan ketinggian standarnya.

Orang yang standarnya tinggi, tapi kesungguhannya rendah, akan merasa minder karena jarak yang mengecewakan antara standarnya yang tinggi dan kualitas hidupnya yang jauh dari sesuai.

Dan itulah yang menjadikannya pemarah dan pemrotes terhadap segala sesuatu yang lebih baik daripadanya.

--Mario Teguh--
bener mbak :)
faziazen wrote on Feb 2
:)
Add a Comment