|
Menyambut pengumuman SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), saya kutipkan tuliskan Pak Ahmad Muchlis, menyoroti sistem ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia yang berbasis kepada pilihan ganda, fenomena bimbingan belajar yang merebak, dan ketidaksiapan calon mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan di bangku PT.
Untuk kita renungkan ..
==
Ujian Masuk yang Merusak
Ahmad Muchlis
Sudah cukup banyak
tulisan tentang keterpurukan pendidikan Indonesia. Betapa kritisnya
pendidikan kita, khususnya pendidikan matematika, tergambar dengan
jelas dalam dua indikator berikut.
Indikator pertama adalah
hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang
diadakan pada tahun 2003. Survei tiga-tahunan ini dilakukan untuk
mengukur tingkat kesiapan anak berusia 15 tahun, yaitu usia di ujung
masa wajib belajar, dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini. Ada
empat wilayah yang menjadi fokus survei, yaitu matematika, membaca,
sains, dan pemecahan masalah. Fokus utama PISA 2003 adalah matematika.
Fokus utama PISA 2000 adalah membaca, sedangkan PISA 2006 akan
mengambil fokus utama sains.
Berdasarkan nilai tes matematika
yang diraihnya, para siswa peserta survei PISA 2003 dikelompokkan ke
dalam enam tingkatan (level) yang menunjukkan
kemahiran mereka dalam matematika. Pada Tingkatan 6, yaitu tingkatan
tertinggi, siswa memiliki kemampuan antara lain untuk mengembangkan
pendekatan dan strategi baru untuk menghadapi situasi yang berbeda dari
yang biasa. Sebagai kontras, siswa pada Tingkatan 1, yaitu tingkatan
terendah, hanya mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan situasi
yang sudah dikenal, dimana semua informasi yang relevan disediakan dan
pertanyaannya sudah terumuskan dengan jelas.
Dalam peta
tingkatan tersebut, dimanakah siswa Indonesia berada? Lebih dari
separuh siswa Indonesia, tepatnya 50,5%, berada di
bawah Tingkatan 1, 27,6% lainnya berada di Tingkatan
1, sedangkan yang berada di Tingkatan 6 secara statistik dapat
diabaikan. Sebagai perbandingan, Thailand memiliki 0,2% siswa pada
Tingkatan 6, 30,2% pada Tingkatan 1, dan 23,8% di bawah Tingkatan 1.
PISA 2003 hanya mencakup Indonesia dan Thailand di antara negara-negara
Asia Tenggara. Sebagai konsekuensi dari tujuan PISA yang telah disebutkan di atas, tes matematika yang diberikan berbeda dengan tes matematika yang lazim diberikan di sekolah. Indikator kedua, Trends in International Mathematics and Science Survey (TIMSS) 2003, lebih dekat kepada matematika sekolah yang lazim. Sebagaimana ditunjukkan namanya, TIMSS berfokus kepada matematika dan sains. Berbeda dengan PISA, TIMSS 2003 memiliki dua kelompok sasaran, yaitu Kelas 4 dan Kelas 8, dengan maksud melihat kecenderungan perubahan. Indonesia terlibat hanya pada kelompok Kelas 8.
Seperti juga PISA, TIMSS mengelompokkan peserta survei untuk wilayah matematika ke dalam empat tingkatan. Karakteristik siswa Kelas 8 pada tingkatan tertinggi, disebut tingkatan lanjut, adalah mampu mengorganisasikan informasi, membuat perumuman, menyelesaikan soal tidak rutin, dan menarik kesimpulan dengan pembenarannya dari data. Pada tingkatan terendah, siswa hanya mempunyai sejumlah pengetahuan matematika dasar. Untuk indikator kedua ini pun, posisi Indonesia memprihatinkan. Hanya 1% siswa Indonesia yang mencapai tingkatan lanjut, sementara 55% siswa hanya mencapai tingkatan terendah. Ini berarti bahwa sekitar 45% siswa tidak mencapai bahkan tingkatan terendah. Sebagai perbandingan, 93% siswa Malaysia mencapai tingkatan terendah, 6% di antara mereka mencapai tingkatan lanjut. Negara dengan prestasi terbaik dalam TIMSS 2003 matematika untuk kelas 8 adalah Singapura, yaitu 99% siswa mencapai tingkatan terendah dengan 44% di antara mereka mencapai tingkatan lanjut.
Mengapa prestasi siswa kita demikian rendah? Harus diakui bahwa ada banyak faktor penyebab dan tidak mungkin pula untuk menghilangkan semua penyebab tersebut sekaligus. Untuk keperluan perbaikan, perlu diidentifikasi sejumlah kecil faktor utama yang kemudian menjadi prioritas untuk dibenahi. Faktor utama tersebut perlu mencakup faktor-faktor yang berdampak besar pada kultur. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita adalah salah satu faktor utama yang harus dibenahi. Sebagai
konsekuensi dari tujuan PISA yang telah disebutkan di atas, tes
matematika yang diberikan berbeda dengan tes matematika yang lazim
diberikan di sekolah. Indikator kedua, Trends in International
Mathematics and Science Survey (TIMSS) 2003, lebih dekat kepada
matematika sekolah yang lazim. Sebagaimana ditunjukkan namanya, TIMSS
berfokus kepada matematika dan sains. Berbeda dengan PISA, TIMSS 2003
memiliki dua kelompok sasaran, yaitu Kelas 4 dan Kelas 8, dengan maksud
melihat kecenderungan perubahan. Indonesia terlibat hanya pada kelompok
Kelas 8.
Seperti juga PISA, TIMSS mengelompokkan peserta survei
untuk wilayah matematika ke dalam empat tingkatan. Karakteristik siswa
Kelas 8 pada tingkatan tertinggi, disebut tingkatan lanjut, adalah mampu mengorganisasikan
informasi, membuat perumuman, menyelesaikan soal tidak rutin, dan
menarik kesimpulan dengan pembenarannya dari data. Pada tingkatan
terendah, siswa hanya mempunyai sejumlah pengetahuan matematika dasar.
Untuk indikator kedua ini pun, posisi Indonesia memprihatinkan. Hanya
1% siswa Indonesia yang mencapai tingkatan lanjut, sementara 55% siswa
hanya mencapai tingkatan terendah. Ini berarti bahwa sekitar 45% siswa
tidak mencapai bahkan tingkatan terendah. Sebagai perbandingan, 93%
siswa Malaysia mencapai tingkatan terendah, 6% di antara mereka
mencapai tingkatan lanjut. Negara dengan prestasi terbaik dalam TIMSS
2003 matematika untuk kelas 8 adalah Singapura, yaitu 99% siswa
mencapai tingkatan terendah dengan 44% di antara mereka mencapai
tingkatan lanjut.
Mengapa prestasi siswa kita demikian rendah?
Harus diakui bahwa ada banyak faktor penyebab dan tidak mungkin pula
untuk menghilangkan semua penyebab tersebut sekaligus. Untuk keperluan
perbaikan, perlu diidentifikasi sejumlah kecil faktor utama yang
kemudian menjadi prioritas untuk dibenahi. Faktor utama tersebut perlu mencakup faktor-faktor yang berdampak
besar pada kultur. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa
sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita adalah salah satu faktor
utama yang harus dibenahi. Sebagaimana kita ketahui, sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita mengandalkan ujian saringan masuk. Pada perguruan tinggi negeri, ujian saringan masuk dilakukan bersama-sama sejak akhir tahun 1970-an. Saat ini, ujian bersama tersebut kita kenal sebagai SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Ujian ini merupakan pertaruhan besar bagi peserta, antara lain dalam menentukan biaya kuliah yang harus dipikul dan kemudahan peserta memperoleh pekerjaan setelah tamat. Sampai di sini semuanya masih tampak wajar. Sumber masalah adalah bahwa ujian tersebut menggunakan format pilihan ganda dengan soal-soal yang umumnya rutin.
Format pilihan ganda dan soal-soal rutin tersebut mendorong siswa untuk menggunakan jalan pintas dalam mempersiapkan diri. Alih-alih belajar dengan tuntas untuk memperoleh pemahaman akan materi ajar, siswa mempersiapkan diri dengan drill yang menekankan kepada cara cepat untuk memperoleh jawaban soal. Pokoknya jawaban yang benar diperoleh dengan cepat, tidak usahlah bertanya tentang mengapa cara cepat itu bisa dipakai. Kerutinan soal juga mendorong siswa untuk lebih banyak mempelajari soal-soal ujian sebelumnya. Dalam bahasa populer, siswa mempelajari tipe-tipe soal. Cara-cara belajar tersebut dianggap perlu dan cukup, sehingga dianggap wajar dan tumbuh menjadi kultur.
Bahwa cara belajar di atas dianggap perlu tampak dari fenomena bimbingan tes. Pada mulanya, di akhir tahun 1970-an itu, mahasiswa yang mengikuti ujian masuk dengan melalui bimbingan tes dapat dihitung dengan jari. Sekarang ini justru mahasiswa tanpa bimbingan tes yang dapat dihitung dengan jari, seolah-olah bimbingan tes adalah suatu keharusan untuk dapat berhasil dalam ujian saringan masuk.
Pola belajar siswa mempengaruhi pola mengajar guru. Siswa tidak senang bila diajak untuk mendalami materi ajar. Mereka lebih suka kalau guru mengajarkan cara mudah menyelesaikan soal. Selain siswa, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi perubahan pola mengajar guru. Pertama, persepsi masyarakat bahwa ukuran sekolah yang baik adalah banyaknya siswa yang lulus SPMB. Kedua, kebutuhan akan penghasilan yang layak membuat sebagian guru tergoda untuk terlibat dalam bimbingan tes. Sebagaimana
kita ketahui, sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita mengandalkan
ujian saringan masuk. Pada perguruan tinggi negeri, ujian saringan
masuk dilakukan bersama-sama sejak akhir tahun 1970-an. Saat ini, ujian
bersama tersebut kita kenal sebagai SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa
Baru). Ujian ini merupakan pertaruhan besar bagi peserta, antara lain
dalam menentukan biaya kuliah yang harus dipikul dan kemudahan peserta
memperoleh pekerjaan setelah tamat. Sampai di sini semuanya masih
tampak wajar. Sumber masalah adalah bahwa ujian tersebut menggunakan
format pilihan ganda dengan soal-soal yang umumnya rutin.
Format
pilihan ganda dan soal-soal rutin tersebut mendorong siswa untuk
menggunakan jalan pintas dalam mempersiapkan diri. Alih-alih belajar
dengan tuntas untuk memperoleh pemahaman akan materi ajar, siswa
mempersiapkan diri dengan drill yang menekankan
kepada cara cepat untuk memperoleh jawaban soal. Pokoknya jawaban
yang benar diperoleh dengan cepat, tidak usahlah bertanya tentang
mengapa cara cepat itu bisa dipakai. Kerutinan soal juga mendorong
siswa untuk lebih banyak mempelajari soal-soal ujian sebelumnya. Dalam
bahasa populer, siswa mempelajari tipe-tipe soal. Cara-cara belajar
tersebut dianggap perlu dan cukup, sehingga dianggap wajar dan tumbuh
menjadi kultur.
Bahwa cara belajar di atas dianggap perlu tampak
dari fenomena bimbingan tes. Pada mulanya, di akhir tahun 1970-an itu,
mahasiswa yang mengikuti ujian masuk dengan melalui bimbingan tes dapat
dihitung dengan jari. Sekarang ini justru mahasiswa tanpa bimbingan tes
yang dapat dihitung dengan jari, seolah-olah bimbingan tes adalah suatu
keharusan untuk dapat berhasil dalam ujian saringan masuk.
Pola
belajar siswa mempengaruhi pola mengajar guru. Siswa tidak senang bila
diajak untuk mendalami materi ajar. Mereka lebih suka kalau guru mengajarkan
cara mudah menyelesaikan soal. Selain siswa, ada beberapa faktor lain
yang mempengaruhi perubahan pola mengajar guru. Pertama, persepsi
masyarakat bahwa ukuran sekolah yang baik adalah banyaknya siswa yang
lulus SPMB. Kedua, kebutuhan akan penghasilan yang layak membuat
sebagian guru tergoda untuk terlibat dalam bimbingan tes. Penerimaan mahasiswa baru berdasarkan hasil ujian semata juga merupakan disincentive bagi guru. Perguruan tinggi tidak menuntut akuntabilitas guru dan sekolah. Sekolah-sekolah diperlakukan sama tanpa memandang baik-buruknya prestasi lulusan di perguruan tinggi.
Faktor-faktor di atas membuat guru pada akhirnya mengikuti kehendak siswa. Soal-soal yang diberikan hanyalah yang rutin, mengajar pun tidak lagi berorientasi pada pemahaman. Semuanya dianggap wajar.
Hal-hal tersebut pada akhirnya turun ke jenjang lebih rendah. Ujian saringan yang sangat menentukan untuk masuk ke jenjang berikutnya, soal-soal rutin serta kultur belajar dan mengajar yang mementingkan perolehan hasil secara cepat, semuanya dipandang menjadi wajar. Kita menemukan bimbingan tes untuk siswa SD. Hasil PISA dan TIMSS di atas konsekuensi sangat pantas untuk situasi seperti ini.
Kita semua tentu sadar bahwa tidak mungkin membawa kehidupan secara utuh ke pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, apa yang diberikan di sekolah lebih merupakan bekal. Agar dapat menggunakan bekal yang diberikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari siswa memerlukan transfer pengalaman belajar (transfer of learning), yaitu kemampuan untuk membawa segala sesuatu yang telah dipelajari dalam satu konteks ke konteks lain yang baru. Dalam teori belajar mutakhir, adanya transfer pengalaman belajar merupakan indikator penting bagi kualitas belajar. Soal-soal tidak rutin, dimana siswa dihadapkan pada situasi soal yang belum dikenalnya, merupakan alat untuk menilai apakah transfer tersebut terjadi. Dalam menyelesaikan soal-soal tidak rutin, siswa dituntut untuk memilih dan, bila perlu, mengembangkan strategi yang tepat. Dominasi soal-soal rutin menghambat terjadinya transfer pengalaman belajar.
Perhatikan bahwa siswa yang memiliki kemampuan pada Tingkatan 6 PISA di atas adalah siswa yang terbiasa dengan soal-soal tidak rutin. Sebaliknya, siswa yang terbiasa hanya dengan soal-soal rutin berada pada Tingkatan 1. Penerimaan
mahasiswa baru berdasarkan hasil ujian semata juga merupakan
disincentive bagi guru. Perguruan tinggi tidak
menuntut akuntabilitas guru dan sekolah. Sekolah-sekolah
diperlakukan sama tanpa memandang baik-buruknya prestasi lulusan di
perguruan tinggi.
Faktor-faktor di atas membuat guru pada
akhirnya mengikuti kehendak siswa. Soal-soal yang diberikan hanyalah
yang rutin, mengajar pun tidak lagi berorientasi pada pemahaman.
Semuanya dianggap wajar.
Hal-hal tersebut pada akhirnya turun ke
jenjang lebih rendah. Ujian saringan yang sangat menentukan untuk masuk
ke jenjang berikutnya, soal-soal rutin serta kultur belajar dan
mengajar yang mementingkan perolehan hasil secara cepat, semuanya
dipandang menjadi wajar. Kita menemukan bimbingan tes untuk siswa SD.
Hasil PISA dan TIMSS di atas konsekuensi sangat pantas untuk situasi
seperti ini.
Kita semua tentu sadar bahwa tidak mungkin membawa
kehidupan secara utuh ke pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, apa
yang diberikan di sekolah lebih merupakan bekal. Agar dapat menggunakan
bekal yang diberikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari siswa
memerlukan transfer pengalaman belajar (transfer of
learning), yaitu kemampuan untuk membawa segala sesuatu yang
telah dipelajari dalam satu konteks ke konteks lain yang baru. Dalam
teori belajar mutakhir, adanya transfer pengalaman belajar merupakan
indikator penting bagi kualitas belajar. Soal-soal tidak rutin, dimana
siswa dihadapkan pada situasi soal yang belum dikenalnya, merupakan
alat untuk menilai apakah transfer tersebut terjadi. Dalam
menyelesaikan soal-soal tidak rutin, siswa dituntut untuk memilih dan,
bila perlu, mengembangkan strategi yang tepat. Dominasi soal-soal rutin
menghambat terjadinya transfer pengalaman belajar.
Perhatikan
bahwa siswa yang memiliki kemampuan pada Tingkatan 6 PISA di atas
adalah siswa yang terbiasa dengan soal-soal tidak rutin. Sebaliknya,
siswa yang terbiasa hanya dengan soal-soal rutin berada pada Tingkatan
1. Apa yang terjadi di atas sebetulnya merugikan perguruan tinggi sendiri. Pola belajar siswa akhirnya terbawa ketika mereka sudah menjadi mahasiswa. Mereka belajar dari soal-soal ujian sebelumnya. Dosen jangan berharap akan hasil ujian yang bagus kalau soal yang diberikan adalah soal tidak rutin. Ujian masuk yang semestinya memprediksi keberhasilan studi calon mahasiswa akhirnya hanya menjadi alat untuk menyusun ranking. Mahasiswa yang dijaring melalui ujian masuk sesungguhnya belum siap untuk belajar di perguruan tinggi. Tidak aneh kalau akhirnya tingkat kegagalan studi masih tetap tinggi dan lama studi masih tetap panjang.
Sudah waktunya perguruan tinggi kita mencari alternatif lain dalam menjaring calon mahasiswanya. Pola seleksi yang mengandalkan ujian masuk semata hendaknya secara bertahap diganti dengan pola seleksi yang mengandalkan reputasi sekolah. Dalam pola seleksi seperti ini, perguruan tinggi menggunakan penilaian guru tentang kesiapan siswa untuk belajar lebih lanjut. Sekolah yang lulusannya berprestasi baik di perguruan tinggi dan penilaian guru-gurunya dapat diandalkan sepatutnya lebih diistimewakan dalam penerimaan mahasiswa baru. Sebaliknya, sekolah yang lulusannya berprestasi buruk atau penilaian guru-gurunya tidak dapat diandalkan perlu memperoleh hukuman. Pola seleksi demikian menuntut akuntabilitas sekolah dan guru, sehingga mendorong pihak-pihak tersebut untuk menumbuhkan serta menjaga kultur belajar dan mengajar yang sehat.
Bandung, 9 September 2005
 | Salam kenal Mas Wikan, Mohon izin mengutip artikel menarik ini . |
 | wikan wrote on Aug 6, '06 Salam kenal Mas Wikan, Mohon izin mengutip artikel menarik ini .  salam kenal juga novalio ... silakan dikutip artikel ini .. saya juga mengutip dari Pak Achmad Muchlis kok :) |
 | memang berat peran pemerintah khususnya depdiknas n BNSP...buat kurikulum banyak2...ampe ganti kulit lagi setelah KBK nuju kurikulum 2006-2007..tapi tep yah tidak menjawab permasalahan mendasar anak didik..sudah banyak ahli dan praktisi pendidikan untuk menggodok kurikulum..lalu ada UAN...kemudian SPMB ..semua diatasnamakan kepentingan mencerdaskan anak bangsa... beliau2 ini tampaknya hanya melihat keberhasilan didikan berdasarkan standar mutu pendidikan...contohnya standar pelajaran matematika ala Indonesia lebih maju dibandingkan dengan standar Barat..yang anak udah dicekoki pembagian, desimal, pembulatan saat kelas IV, diluar baru saja mengenal pecahan.. jadi ...kita seperti berlomba2 mencapai gengsi berdasarkan standar ilmu/kompetensi yang ingin dicapai..tapi pada kenyataannya, terpuruk dalam implementasi dan hasil... kasihan sekali anak-anak jaman sekarang...dari kecil telah dibebani dengan stres..sedari kanak, ibu n bapak berlomba2 mengajarkan anaknya membaca dan menulis agar saat tes kematangan sekolah bisa lulus... carut marut sekali dunia pendidikan kita... |
 | Terlalu menyederhanakan masalah. Achmad Muchlis menyorot tentang SPMB dan dikaitkan dengan PISA. Dan pemecahan yang diajukan adalah sistem seleksi yang mengandalkan reputasi sekolah. Wow... sangat utopia di tengah sistem pendidikan kita yang masih amburadul. Saya mengandaikan bahwa SELURUH mahasiswa di PT adalah yang berasal dari kota besar yang terbiasa dengan sekolah yang bereputasi dan berfasilitas lengkap.
Sistem SPMB sudah cukup relevan untuk menyaring calon mahasiswa. Mengapa kita tidak memperbaiki sistem yang sudah ada, misalnya dengan menjadikan SPMB sebagai Tes Kesiapan Masuk Sekolah (sama seperti anak TK mau masuk SD). SPMB (idealnya) adalah Tes Kesiapan sso untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan hanya orang-orang yang SIAP, bukan siap mengerjakan soal dengan cepat, yang bisa lulus ke jenjang pendidikan itu. Ubah pembuatan soal, ubah cara pengerjaan, ubah sistemnya, dan jangan membom rumah untuk menangkap tikus. |
|