Blog EntrySisi Lain Olimpiade SainsJul 26, '06 5:09 AM
for everyone
Di bawah ini adalah sebuah tulisan dari sebuah milis yang ditulis oleh Mikrajudin Abdullah mengungkap sisi lain di balik prestasi Indonesia dalam olimpiade-olimpiade sains, antara lain olimpiade fisika, biologi, matematika, komputer, kimia, dan astronomi.

Banyak faktor yang menentukan kemenangan dan sukses. Para peserta olimpiade yang menang dan mendapatkan medali tidak mendapatkan prestasi yang mereka raih tanpa bantuan dan dukungan orang2 sekitarnya, termasuk pembimbing, para juri, dan panitia olimpiade sendiri.

Tulisan ini bisa dijadikan sekedar memperluas perspektif kita pada apa arti kemenangan itu sendiri. Dan lebih luas lagi, bagaimana sebenarnya permasalahan pendidikan di Indonesia yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan kemenangan-kemenangan di olimpiade sains.

==

Sisi Lain Olimpiade Sains

oleh: Mikrajuddin Abdullah


Kita patut mengucapkan selamat kepada tim olimpiade
fisika Indonesia yang baru saja meraih prestasi
tertinggi dalam IPhO ke-37 tanggal 8 – 16 Juli lalu di
Singapura. Empat medali emas dan satu medali perak
berhasil diraih dalam lomba tersebut. Prestasi ini
membanggakan kita semua dan semakin meyakinkan kita
bahwa kemampuan siswa-siswa kita sejajar dengan
siswa-siswa dari negara yang lebih maju asal dibina
dengan baik. Pembinaan yang baik juga bermakna
penyediaan dana yang cukup besar bagi dunia pendidikan
karena tidak kecil dana yang dikelurkan untuk melatih
siswa-siswa peserta olimpiade tersebut.

Sudah banyak ulasan tentang kehebatan siswa-siswa
peserta olimpiade kita oleh media cetak maupun
elektronik. Pada tulisan ini saya ingin mengangkat
sisi lain tentang olimpiade yang mungkin kurang muncul
di permukaan. Saya ingin memaparkan proses apa yang
berlangsung selama olimpiade sehingga kita bisa
melihat lebih komprehensif faktor-faktor apa yang
berperan dalam menentukan keberhasilan siswa meraih
penghargaan.

1. Pemilihan Soal
Sehari sebelum pelaksanaan ujian teori, diadakan
diskusi pemilihan soal-soal (problems selection) yang
akan diujikan besok. Program ini melibatkan para juri
dan semua pendamping siswa. Panitia membuat bank soal
yang cukup banyak, dan soal mana yang akan diujikan
dirembuk secara bersama dalam ruang tertutup antara
juri dan semua pendampung siswa. Di sini sering muncul
perdebatan seru antara pembina dengan juri atau sesama
pembina dari negara berbeda. Pasti semua pembina
berkeinginan agar sebanyak-banyaknya soal yang
diujikan adalah soal yang dapat diselesaikan oleh
siswanya. Beberapa argumen seperti soal tidak sesuai
silabus atau terlalu sulit bagi siswa sekolah menengah
kadang muncul untuk menolak soal yang diperkirakan
tidak sanggup dikerjakan siswanya. Program ini
berlangsung berjam-jam.

Diskusi ini juga menyangkut pemberian bobot pada
masing-masing soal yang akan diujikan. Pembina yang
cerdik akan berusaha mengusukan bobot yang cukup
tinggi bagi soal yang sekiranya dapat diselesaikan
oleh siswanya dan menguslkan bobot yang rendah bagi
soal yang sekiranya akan gagal diselesaikan oleh
siswanya. Setelah pemilihan soal selesai, para pembina
menerjemahkan soal-soal tersebut ke dalam bahasa
negaranya masing-masing. Jadi yang dihadapi oleh para
siswa bukan lagi soal dalam bahasa Inggris, tetapi
soal dalam bahasa negaranya. Ada juga kekhawatiran
bahwa penerjemahan ini memunculkan hint-hint
tersembunyi bagi para siswa.


2. Tingkat Kesulitan Soal
Umumnya tingkat kesulitan soal yang diujikan di IPhO
tidak lebih dari pelajaran tingkat II di perguruan
tinggi. Pernyataan bahwa tingkat kesulitan soal IPhO
setara dengan kuliah S2 atau topik riset doktor
seperti yang dimuat di media massa terlalu
dibesar-besarkan. Dalam pasal #5 Statutes of IPhO
versi 1999 yang dibuat di Podova, Italia disebutkan
bahwa “pelajar sekolah menengah atas harus dapat
menyelesaikan soal-soal kompetisi dengan menggunakan
matematika standar yang diajarkan di sekolah menengah
atas tanpa memerlukan perhitungan numerik yang
intensif”. Sebagai contoh dalam IPhO ke-33 di Bali,
dari empat soal teori yang diujikan, tiga soal setara
dengan ujian fisika tingkat I dan satu soal (tentang
ground penetrating radar) setara dengan ujian mata
kuliah gelombang di tingkat II.

Juga dalam silabus IPhO disebutkan:

a.       Untuk menyelesaikan soal-soal yang diujikan
tidak boleh menuntut penggunaan kalkulus (diferensial
dan integral), penggunaan bilangan kompleks dan
pemecahan persamaan diferensial secara intensif.

b.      Pertanyaan dapat juga menyangkut konsep dan
fenomena yang tidak terkandung dalam silabus, tetapi
informasi-informasi yang cukup harus diberikan
sehingga para peserta yang semula tidak mengenal topik
tersebut tidak merasa dirugikan.

c.       Alat ekperiment khusus yang tidak terbiasa
bagi peserta tidak boleh mendominasi eksperimen. Jika
perlatan tersebut digunakan, maka instruksi yang
teliti harus diberikan ke para peserta.


3. Diskusi Jawaban
Saat siswa mengikuti ujian, para juri dan semua
pembina mendiskusikan jawaban untuk masing-masing
soal. Di sini pun bisa muncul perdebatan. Pembina yang
bisa memprediksi arah jawaban siswa akan berusaha agar
bentuk jawaban yang ia perkirakan merupakan bentuk
jawaban dari siswanya dibenarkan (diberi bobot nilai).
Dalam sejumlah tahapan diskusi, akan tampak sejumlah
pembina sangat ngotot dan sejumlah pembina yang
adem-ayem. Pembina ngotot ini biasanya telah diberi
beban meraih medali sebanyak-banyaknya oleh
pemerintahnya. Hasil diskusi ini menjadi patokan para
juri dalam memberikan penilaian pada jawaban siswa.


4. Pemeriksanaan Jawaban
Pemeriksanaan jawaban dilakukan oleh para juri. Namun
para pembina juga diberi kesempatan untuk menilai
sebagai bahan perbandingan. Hasil penilaian juri dan
pembina didiskusikan saat tahap moderasi.

Setelah jawaban siswa dikumpulkan, maka lembar jawaban
tersebut difoto copy: satu untuk juri dan satu untuk
pembina. Setelah itulah juri melakukan koreksi dengan
mengacu pada jawaban yang telah disepakati sebelumnya.

Proses serupa terjadi pada saat pelaksanan ujian
ekperimen. Hanya di sini tidak ada proses pemilihan
soal, karena perubahan soal akan mengganti alat
eksperimen yang akan digunakan, dan ini tidak mungkin.
Jenis eksperimen menjadi hak prerogatif panitia. Yang
didiskusikan sebelum ujian eksperimen hanya redaksi
kalimat dalam petunjuk eksperimen serta bobot nilai
tiap-tiap tahap. Saat eksperimen berlangsung, juri dan
semua pembina mendiskusikan jawaban, termasuk
menduskusikan berapa nilai yang harus diberikan jika
jawaban yang diberikan siswa tidak tuntas.


5. Moderasi
Moderasi merupakan salah satu tahap yang paling seru
dari keseluruhan tahap olimpiade. Hasil penilaian juri
dan pembina siswa dibandingkan. Jika pembina merasa
juri memberikan nilai yang lebih rendah dari nilai
menurut dia, maka ia bisa berargumentasi. Seluruh
kekuatan argumentasi dikerahkan untuk menambah nilai
siswa. Sebaliknya, jika nilai yang diberikan juri
lebih tinggi dari nilai perkiraan pembina, biasanya
langsung dilewati. Hasil dari moderasi umumnya
peningkatan nilai siswa. Pembina yang pandai
berargumen dapat menghasilkan tambahan nilai yang
sangat signifikan bagi siswanya dalam proses moderasi
ini. Sebaliknya, pembina yang kalem dan kurang percaya
diri dalam bahasa Inggris biasanya tidak mendapatkan
tambahan nilai yang berarti.

Tahap moderasi sedikit membiaskan objektivitas juri.
Juri yang semula memberikan penilaian objektif pada
jawaban seluruh siswa menjadi kurang objektif lagi.
Intervensi pembina bisa memberikan tambahan nilai yang
berbeda bagi peserta dari negara yang berbeda. Pernah
dalam salah satu olimpiade, pembina dari sebuah negara
sempat menangis-nangis agar nilai siswanya dinaikkan
oleh juri pada proses moderasi ini. Pembina tersebut
sudah kehabisan bahan argumentasi dan dia merasa nilai
akhir siswanya masih belum memuaskan.


6. Pertemuan Akhir
Pertemuan akhir dihadiri oleh juri dan semua pembina.
Pertemuan ini juga akan seru karena akan menentukan
batas nilai bagi peraih emas, peraih perak, dan peraih
perunggu. “Yang agak aneh” di sini adalah jumlah
medali yang dibagikan tidak ditentukan dari awal.
Jumlah medali yang dibagikan bergantung pada
kesepakatan dalam pertemuan akhir ini.

Pembina yang menduga siswa-siswanya tidak bertengger
di rangking atas akan berusaha mati-matian agar batas
nilai untuk meraih medali emas direndahkan sehingga
siswanya dapat menggondol medali emas. Setelah itu ia
berusaha agar batas perak diturunkan jika ia menduga
siswanya tidak bertengger di rangking atas setelah
siswa peraih emas dikeluarkan dalam daftar. Begitu
pula dengan batas peraih perunggu. Siswa-siswa yang
tidak meraih medali emas, perak, maupun perunggu
hampir semuanya akan diberi penghargaan honorable
mention. Jadi semua peserta olimpiade akan mendapat
penghargaan. Tidak ada yang pulang dengan tangan
hampa.

Pada IPhO ke-33 di Bali tahun 2002, jumlah peserta
adalah 296 orang. Jumlah peserta peraih medali emas
adalah 42 orang, peraih medali perak 37 orang, peraih
medali perunggu adalah 58 orang dan honorable mention
68 orang (Total 296 orang). Tampak di sini bahwa
meraih medali emas dalam IPhO bukan berarti siswa
tersebut berada di rangking-rangking atas, misalnya
“top ten”. Seperti dalam IPhO di Bali, siswa pada
rangking 42 juga memperoleh medali emas.

Pemberian medali ini berbeda dengan kebiasaan dalam
lomba yang sering kita jumpai di mana jumlah medali
biasanya sudah ditentukan dari awal, misalnya emas 1
medali, perak 1 medali, perunggu 1 atau 2 medali,
sehingga yang menggondol emas benar-benar yang
menempati posisi puncak, penggondol perak adalah yang
menempati posisi kedua dan penggondol perunggu adalah
yang menempati posisi ketiga. Tidak ada tawar menawar
untuk menjadikan medali emas lima buah sehingga yang
menempati rengking satu sampai lima mendapat medali
emas. Dalam olimpiade fisika, bisa terjadi saat ini
jumlah peraih emas 20 orang, tahun berikutnya 30
orang, tahun lainnya 50 orang, dan seterusnya. Hal itu
semata-mata bergantung pada kesepakatan antara juri
dan pembina berapa batas bawah nilai untuk
masing-masing peraih medali.


7. Ke Mana Para Siswa
Pada uraian di atas kita melihat aktivitas para
pembina selama olimpiade berlangsung. Lalu apa
kegiatan siswa? Kegiatan siwa tidak banyak: mengikuti
test tertulis dan test eksperimen, setelah itu
selesai. Setelah mengikuti dua test tersebut para
siswa biasanya diajak piknik. Hampir seluruh waktu
olimpiade diisi oleh para pembina. Pembina dapat
berperan besar menjadikan siswanya meraih medali emas,
perak, atau perunggu. Sebagai contoh, dia bisa
mengubah siswanya yang semula berada pada daftar
peraih perak menjadi peraih emas, atau yang semula
berada pada daftar peraih perunggu menjadi peraih
perak. Beda nilai peraih emas dan perak tidak terlalu
besar. Jika dalam proses moderasi dia berhasil
mendapatkan tambahan nilai nol koma sekian, maka bisa
jadi tambahan tersebut menyebabkan siswa masuk dalam
daftar peraih emas.


8. Pelajaran yang dipetik
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini terjadi euforia
olimpiade di semua daerah Indonesia. Rasanya tidak
afdol jika sebuah daerah belum memiliki siswa peraih
medali olimpiade dari daerahnya. Segala usaha
dilakukan seperti pelatihan khusus bagi sejumlah siswa
berprestasi. Daerah-daerah kaya tidak ragu-ragu
menggelontorkan dana besar hanya untuk melatih
beberapa siswanya agar dapat meraih medali dalam
olimpiade, baik nasional maupun internasional.
Olimpiade sudah dijadikan simbol keberhasilan
pendidikan di daerah tersebut. Karena mengutamakan
simbol ini, praktek tidak terpuji sudah mulai muncul.
Dalam olimpiade sains nasional di Jakarta tahun 2005
salah seorang joki tertangkap saat olimpiade
berlangsung. Ia memakai nama palsu seolah-olah sebagai
pembina salah satu tim di propinsi wilayah timur
dengan maksud bisa memperjuangkan para siswa dari tim
tersebut bisa meraih angka tinggi dalam olimpiade.
Ternyata yang bersangkutan dikenal sebagai seorang
dosen bergelar doctor di perguruan tinggi negeri
terkenal di Jakarta.

Sifat ini tidak seharusnya terjadi. Olimpiade tidak
merepresentasikan kemajuan pendidikan suatu daerah
atau kemajuan pendidikan bangsa kita. Yang meraih
prestasi dalam olimpiade hanya satu dua orang siswa
yang telah dilatih secara khusus dan ketat dalam waktu
yang lama bahkan sampai mengesampingkan
pelajaran-pelajaran lain di sekolah. Padahal jumlah
siswa di Indonesia yang masih berada pada tingkat
kemampuan yang sangat rendah ada puluhan juta orang.
Prestasi emas dalam IPhO bukan berarti taraf
pendidikan negara kita sudah sejajar dengan negara
yang lebih maju. Ini salah kaprah. Presetasi emas itu
hanya diraih oleh siswa yang telah ditraining secara
khusus dengan dana cukup besar dan dalam waktu yang
cukup lama (bisa sampai setahun). Tetapi puluhan juta
siswa lainnya masih berada pada tingkat pendidikan
yang sangat rendah.

Pelajaran yang diambil dari pelaksanaan olimpiade
sebenarnya hanya satu. Siswa-siswa kita memiliki
potensi. Apabila dibina secara baik maka mereka dapat
meraih prestasi yang sama dengan siswa di negara yang
lebih maju. Pembinaan secara baik ini bermakna
perbaikan sistem pendidikan termasuk penyediaan
anggaran pendidikan yang cukup. Jika tidak dilakukan
kita hanya melihat siswa-siswa kita berhasil meraih
emas di olimpiade sementara tingkat pendidikan kita
makin terpuruk. Jangan sampai desas-desus yang muncul
sekarang adalah benar, yaitu keikutsertaan Indonesia
dalam olimpiade ini semata-mata ingin memperlihatkan
bahwa Indonesia juga memiliki prestasi, karena tidak
ada lagi prestasi lain yang bisa diperlihatkan kepada
dunia.



droppingzone wrote on Jul 26, '06

Pertama ya?!?

droppingzone wrote on Jul 26, '06
wikan said
Umumnya tingkat kesulitan soal yang diujikan di IPhO
tidak lebih dari pelajaran tingkat II di perguruan
tinggi. Pernyataan bahwa tingkat kesulitan soal IPhO
setara dengan kuliah S2 atau topik riset doktor
seperti yang dimuat di media massa terlalu
dibesar-besarkan. Dalam pasal #5 Statutes of IPhO
versi 1999 yang dibuat di Podova, Italia disebutkan
bahwa “pelajar sekolah menengah atas harus dapat
menyelesaikan soal-soal kompetisi dengan menggunakan
matematika standar yang diajarkan di sekolah menengah
atas tanpa memerlukan perhitungan numerik yang
intensif”.
Wah saya juga sempat meragukan tuh, koq SMA dikasih soal S2? Ternyata memang cuma dibesar2kan ya om.
wikan wrote on Jul 26, '06
Wah saya juga sempat meragukan tuh, koq SMA dikasih soal S2? Ternyata memang cuma dibesar2kan ya om.
mungkin maksudnya anak S2 dikasih soal kayak gitu belum tentu bisa menyelesaikannya :)
(kalau ini sih, sebenarnya lebih menyoroti ke mutu mahasiswa S2 yang rendah)
amalatu2005 wrote on Jul 26, '06
iya benar, apalagi S2 sudah bisa dibuka dimana-mana di indonesia. anyway, semoga kontes2 yang macam ini bisa memacu peningkatan pendidikan kita yang memprihatinkan ini.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Bernd Willenberg