|
Di bawah ini adalah sebuah tulisan dari sebuah milis yang ditulis oleh Mikrajudin Abdullah mengungkap sisi lain di balik prestasi Indonesia dalam olimpiade-olimpiade sains, antara lain olimpiade fisika, biologi, matematika, komputer, kimia, dan astronomi.
Banyak faktor yang menentukan kemenangan dan sukses. Para peserta olimpiade yang menang dan mendapatkan medali tidak mendapatkan prestasi yang mereka raih tanpa bantuan dan dukungan orang2 sekitarnya, termasuk pembimbing, para juri, dan panitia olimpiade sendiri.
Tulisan ini bisa dijadikan sekedar memperluas perspektif kita pada apa arti kemenangan itu sendiri. Dan lebih luas lagi, bagaimana sebenarnya permasalahan pendidikan di Indonesia yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan kemenangan-kemenangan di olimpiade sains.
==
Sisi Lain Olimpiade Sains
oleh: Mikrajuddin Abdullah
Kita patut mengucapkan selamat kepada tim olimpiade fisika Indonesia yang baru saja meraih prestasi tertinggi dalam IPhO ke-37 tanggal 8 – 16 Juli lalu di Singapura. Empat medali emas dan satu medali perak berhasil diraih dalam lomba tersebut. Prestasi ini membanggakan kita semua dan semakin meyakinkan kita bahwa kemampuan siswa-siswa kita sejajar dengan siswa-siswa dari negara yang lebih maju asal dibina dengan baik. Pembinaan yang baik juga bermakna penyediaan dana yang cukup besar bagi dunia pendidikan karena tidak kecil dana yang dikelurkan untuk melatih siswa-siswa peserta olimpiade tersebut.
Sudah banyak ulasan tentang kehebatan siswa-siswa peserta olimpiade kita oleh media cetak maupun elektronik. Pada tulisan ini saya ingin mengangkat sisi lain tentang olimpiade yang mungkin kurang muncul di permukaan. Saya ingin memaparkan proses apa yang berlangsung selama olimpiade sehingga kita bisa melihat lebih komprehensif faktor-faktor apa yang berperan dalam menentukan keberhasilan siswa meraih penghargaan.
1. Pemilihan Soal Sehari sebelum pelaksanaan ujian teori, diadakan diskusi pemilihan soal-soal (problems selection) yang akan diujikan besok. Program ini melibatkan para juri dan semua pendamping siswa. Panitia membuat bank soal yang cukup banyak, dan soal mana yang akan diujikan dirembuk secara bersama dalam ruang tertutup antara juri dan semua pendampung siswa. Di sini sering muncul perdebatan seru antara pembina dengan juri atau sesama pembina dari negara berbeda. Pasti semua pembina berkeinginan agar sebanyak-banyaknya soal yang diujikan adalah soal yang dapat diselesaikan oleh siswanya. Beberapa argumen seperti soal tidak sesuai silabus atau terlalu sulit bagi siswa sekolah menengah kadang muncul untuk menolak soal yang diperkirakan tidak sanggup dikerjakan siswanya. Program ini berlangsung berjam-jam.
Diskusi ini juga menyangkut pemberian bobot pada masing-masing soal yang akan diujikan. Pembina yang cerdik akan berusaha mengusukan bobot yang cukup tinggi bagi soal yang sekiranya dapat diselesaikan oleh siswanya dan menguslkan bobot yang rendah bagi soal yang sekiranya akan gagal diselesaikan oleh siswanya. Setelah pemilihan soal selesai, para pembina menerjemahkan soal-soal tersebut ke dalam bahasa negaranya masing-masing. Jadi yang dihadapi oleh para siswa bukan lagi soal dalam bahasa Inggris, tetapi soal dalam bahasa negaranya. Ada juga kekhawatiran bahwa penerjemahan ini memunculkan hint-hint tersembunyi bagi para siswa.
2. Tingkat Kesulitan Soal Umumnya tingkat kesulitan soal yang diujikan di IPhO tidak lebih dari pelajaran tingkat II di perguruan tinggi. Pernyataan bahwa tingkat kesulitan soal IPhO setara dengan kuliah S2 atau topik riset doktor seperti yang dimuat di media massa terlalu dibesar-besarkan. Dalam pasal #5 Statutes of IPhO versi 1999 yang dibuat di Podova, Italia disebutkan bahwa “pelajar sekolah menengah atas harus dapat menyelesaikan soal-soal kompetisi dengan menggunakan matematika standar yang diajarkan di sekolah menengah atas tanpa memerlukan perhitungan numerik yang intensif”. Sebagai contoh dalam IPhO ke-33 di Bali, dari empat soal teori yang diujikan, tiga soal setara dengan ujian fisika tingkat I dan satu soal (tentang ground penetrating radar) setara dengan ujian mata kuliah gelombang di tingkat II.
Juga dalam silabus IPhO disebutkan:
a. Untuk menyelesaikan soal-soal yang diujikan tidak boleh menuntut penggunaan kalkulus (diferensial dan integral), penggunaan bilangan kompleks dan pemecahan persamaan diferensial secara intensif.
b. Pertanyaan dapat juga menyangkut konsep dan fenomena yang tidak terkandung dalam silabus, tetapi informasi-informasi yang cukup harus diberikan sehingga para peserta yang semula tidak mengenal topik tersebut tidak merasa dirugikan.
c. Alat ekperiment khusus yang tidak terbiasa bagi peserta tidak boleh mendominasi eksperimen. Jika perlatan tersebut digunakan, maka instruksi yang teliti harus diberikan ke para peserta.
3. Diskusi Jawaban Saat siswa mengikuti ujian, para juri dan semua pembina mendiskusikan jawaban untuk masing-masing soal. Di sini pun bisa muncul perdebatan. Pembina yang bisa memprediksi arah jawaban siswa akan berusaha agar bentuk jawaban yang ia perkirakan merupakan bentuk jawaban dari siswanya dibenarkan (diberi bobot nilai). Dalam sejumlah tahapan diskusi, akan tampak sejumlah pembina sangat ngotot dan sejumlah pembina yang adem-ayem. Pembina ngotot ini biasanya telah diberi beban meraih medali sebanyak-banyaknya oleh pemerintahnya. Hasil diskusi ini menjadi patokan para juri dalam memberikan penilaian pada jawaban siswa.
4. Pemeriksanaan Jawaban Pemeriksanaan jawaban dilakukan oleh para juri. Namun para pembina juga diberi kesempatan untuk menilai sebagai bahan perbandingan. Hasil penilaian juri dan pembina didiskusikan saat tahap moderasi.
Setelah jawaban siswa dikumpulkan, maka lembar jawaban tersebut difoto copy: satu untuk juri dan satu untuk pembina. Setelah itulah juri melakukan koreksi dengan mengacu pada jawaban yang telah disepakati sebelumnya.
Proses serupa terjadi pada saat pelaksanan ujian ekperimen. Hanya di sini tidak ada proses pemilihan soal, karena perubahan soal akan mengganti alat eksperimen yang akan digunakan, dan ini tidak mungkin. Jenis eksperimen menjadi hak prerogatif panitia. Yang didiskusikan sebelum ujian eksperimen hanya redaksi kalimat dalam petunjuk eksperimen serta bobot nilai tiap-tiap tahap. Saat eksperimen berlangsung, juri dan semua pembina mendiskusikan jawaban, termasuk menduskusikan berapa nilai yang harus diberikan jika jawaban yang diberikan siswa tidak tuntas.
5. Moderasi Moderasi merupakan salah satu tahap yang paling seru dari keseluruhan tahap olimpiade. Hasil penilaian juri dan pembina siswa dibandingkan. Jika pembina merasa juri memberikan nilai yang lebih rendah dari nilai menurut dia, maka ia bisa berargumentasi. Seluruh kekuatan argumentasi dikerahkan untuk menambah nilai siswa. Sebaliknya, jika nilai yang diberikan juri lebih tinggi dari nilai perkiraan pembina, biasanya langsung dilewati. Hasil dari moderasi umumnya peningkatan nilai siswa. Pembina yang pandai berargumen dapat menghasilkan tambahan nilai yang sangat signifikan bagi siswanya dalam proses moderasi ini. Sebaliknya, pembina yang kalem dan kurang percaya diri dalam bahasa Inggris biasanya tidak mendapatkan tambahan nilai yang berarti.
Tahap moderasi sedikit membiaskan objektivitas juri. Juri yang semula memberikan penilaian objektif pada jawaban seluruh siswa menjadi kurang objektif lagi. Intervensi pembina bisa memberikan tambahan nilai yang berbeda bagi peserta dari negara yang berbeda. Pernah dalam salah satu olimpiade, pembina dari sebuah negara sempat menangis-nangis agar nilai siswanya dinaikkan oleh juri pada proses moderasi ini. Pembina tersebut sudah kehabisan bahan argumentasi dan dia merasa nilai akhir siswanya masih belum memuaskan.
6. Pertemuan Akhir Pertemuan akhir dihadiri oleh juri dan semua pembina. Pertemuan ini juga akan seru karena akan menentukan batas nilai bagi peraih emas, peraih perak, dan peraih perunggu. “Yang agak aneh” di sini adalah jumlah medali yang dibagikan tidak ditentukan dari awal. Jumlah medali yang dibagikan bergantung pada kesepakatan dalam pertemuan akhir ini.
Pembina yang menduga siswa-siswanya tidak bertengger di rangking atas akan berusaha mati-matian agar batas nilai untuk meraih medali emas direndahkan sehingga siswanya dapat menggondol medali emas. Setelah itu ia berusaha agar batas perak diturunkan jika ia menduga siswanya tidak bertengger di rangking atas setelah siswa peraih emas dikeluarkan dalam daftar. Begitu pula dengan batas peraih perunggu. Siswa-siswa yang tidak meraih medali emas, perak, maupun perunggu hampir semuanya akan diberi penghargaan honorable mention. Jadi semua peserta olimpiade akan mendapat penghargaan. Tidak ada yang pulang dengan tangan hampa.
Pada IPhO ke-33 di Bali tahun 2002, jumlah peserta adalah 296 orang. Jumlah peserta peraih medali emas adalah 42 orang, peraih medali perak 37 orang, peraih medali perunggu adalah 58 orang dan honorable mention 68 orang (Total 296 orang). Tampak di sini bahwa meraih medali emas dalam IPhO bukan berarti siswa tersebut berada di rangking-rangking atas, misalnya “top ten”. Seperti dalam IPhO di Bali, siswa pada rangking 42 juga memperoleh medali emas.
Pemberian medali ini berbeda dengan kebiasaan dalam lomba yang sering kita jumpai di mana jumlah medali biasanya sudah ditentukan dari awal, misalnya emas 1 medali, perak 1 medali, perunggu 1 atau 2 medali, sehingga yang menggondol emas benar-benar yang menempati posisi puncak, penggondol perak adalah yang menempati posisi kedua dan penggondol perunggu adalah yang menempati posisi ketiga. Tidak ada tawar menawar untuk menjadikan medali emas lima buah sehingga yang menempati rengking satu sampai lima mendapat medali emas. Dalam olimpiade fisika, bisa terjadi saat ini jumlah peraih emas 20 orang, tahun berikutnya 30 orang, tahun lainnya 50 orang, dan seterusnya. Hal itu semata-mata bergantung pada kesepakatan antara juri dan pembina berapa batas bawah nilai untuk masing-masing peraih medali.
7. Ke Mana Para Siswa Pada uraian di atas kita melihat aktivitas para pembina selama olimpiade berlangsung. Lalu apa kegiatan siswa? Kegiatan siwa tidak banyak: mengikuti test tertulis dan test eksperimen, setelah itu selesai. Setelah mengikuti dua test tersebut para siswa biasanya diajak piknik. Hampir seluruh waktu olimpiade diisi oleh para pembina. Pembina dapat berperan besar menjadikan siswanya meraih medali emas, perak, atau perunggu. Sebagai contoh, dia bisa mengubah siswanya yang semula berada pada daftar peraih perak menjadi peraih emas, atau yang semula berada pada daftar peraih perunggu menjadi peraih perak. Beda nilai peraih emas dan perak tidak terlalu besar. Jika dalam proses moderasi dia berhasil mendapatkan tambahan nilai nol koma sekian, maka bisa jadi tambahan tersebut menyebabkan siswa masuk dalam daftar peraih emas.
8. Pelajaran yang dipetik Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini terjadi euforia olimpiade di semua daerah Indonesia. Rasanya tidak afdol jika sebuah daerah belum memiliki siswa peraih medali olimpiade dari daerahnya. Segala usaha dilakukan seperti pelatihan khusus bagi sejumlah siswa berprestasi. Daerah-daerah kaya tidak ragu-ragu menggelontorkan dana besar hanya untuk melatih beberapa siswanya agar dapat meraih medali dalam olimpiade, baik nasional maupun internasional. Olimpiade sudah dijadikan simbol keberhasilan pendidikan di daerah tersebut. Karena mengutamakan simbol ini, praktek tidak terpuji sudah mulai muncul. Dalam olimpiade sains nasional di Jakarta tahun 2005 salah seorang joki tertangkap saat olimpiade berlangsung. Ia memakai nama palsu seolah-olah sebagai pembina salah satu tim di propinsi wilayah timur dengan maksud bisa memperjuangkan para siswa dari tim tersebut bisa meraih angka tinggi dalam olimpiade. Ternyata yang bersangkutan dikenal sebagai seorang dosen bergelar doctor di perguruan tinggi negeri terkenal di Jakarta.
Sifat ini tidak seharusnya terjadi. Olimpiade tidak merepresentasikan kemajuan pendidikan suatu daerah atau kemajuan pendidikan bangsa kita. Yang meraih prestasi dalam olimpiade hanya satu dua orang siswa yang telah dilatih secara khusus dan ketat dalam waktu yang lama bahkan sampai mengesampingkan pelajaran-pelajaran lain di sekolah. Padahal jumlah siswa di Indonesia yang masih berada pada tingkat kemampuan yang sangat rendah ada puluhan juta orang. Prestasi emas dalam IPhO bukan berarti taraf pendidikan negara kita sudah sejajar dengan negara yang lebih maju. Ini salah kaprah. Presetasi emas itu hanya diraih oleh siswa yang telah ditraining secara khusus dengan dana cukup besar dan dalam waktu yang cukup lama (bisa sampai setahun). Tetapi puluhan juta siswa lainnya masih berada pada tingkat pendidikan yang sangat rendah.
Pelajaran yang diambil dari pelaksanaan olimpiade sebenarnya hanya satu. Siswa-siswa kita memiliki potensi. Apabila dibina secara baik maka mereka dapat meraih prestasi yang sama dengan siswa di negara yang lebih maju. Pembinaan secara baik ini bermakna perbaikan sistem pendidikan termasuk penyediaan anggaran pendidikan yang cukup. Jika tidak dilakukan kita hanya melihat siswa-siswa kita berhasil meraih emas di olimpiade sementara tingkat pendidikan kita makin terpuruk. Jangan sampai desas-desus yang muncul sekarang adalah benar, yaitu keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade ini semata-mata ingin memperlihatkan bahwa Indonesia juga memiliki prestasi, karena tidak ada lagi prestasi lain yang bisa diperlihatkan kepada dunia.
 | wikan wrote on Jul 26, '06 Wah saya juga sempat meragukan tuh, koq SMA dikasih soal S2? Ternyata memang cuma dibesar2kan ya om.  mungkin maksudnya anak S2 dikasih soal kayak gitu belum tentu bisa menyelesaikannya :) (kalau ini sih, sebenarnya lebih menyoroti ke mutu mahasiswa S2 yang rendah) |
 | iya benar, apalagi S2 sudah bisa dibuka dimana-mana di indonesia. anyway, semoga kontes2 yang macam ini bisa memacu peningkatan pendidikan kita yang memprihatinkan ini. |
|