|

Menarik sekali tulisan yang dibuat Pak Kafi Kurnia di Gatra ini. Isinya mengenai pesan dari Sun Tzu untuk tidak memperlihatkan luka/kelemahan kita kepada lawan. Memperlihatkan luka menunjukkan kelemahan kita, sehingga mudah diserang lawan dan menjadikan kita akhirnya kalah. Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata pesan ini cukup aplikatif. Kadang-kadang karena pemikiran yang dangkal dan tidak strategis membuat kita terburu-buru dalam mengambil langkah dan kebijakan. Akhirnya justru hal tersebut membuka "luka" kita sendiri. Berikut tulisan Pak Kafi ... === KETIKA masih di SMA, setiap kali ada pertandingan bola voli dengan
sekolah lain, guru olahraga kami selalu memberikan instruksi yang
sederhana tapi jitu. Yaitu, amati regu musuh baik-baik. Temukan anggota
tim yang paling lemah. Hantam terus anggota yang lemah itu.
Teman-temannya akan berusaha melindungi begitu tahu ia dicecar musuh.
Biasanya, tak lama kemudian, anggota tim itu akan panik. Setelah itu,
kebanyakan konflik muncul. Dan regu musuh akan mulai membuat kesalahan.
Jalan menuju kemenangan biasanya akan terlihat lebih jelas.
Pelajaran ini sangat membekas dalam diri saya. Strategi perang Sun-Tzu
juga mengajarkan hal yang sama. Kepada saya, seorang tokoh bisnis
pernah mengatakan: "Kalau Anda terluka, sembunyikan luka itu baik-baik.
Jangan sampai ketahuan musuh." Artinya, jangan pernah memperlihatkan
kelemahan pada musuh. Akibatnya bisa fatal. Melebihi luka itu sendiri.
Beberapa hari yang lalu, saya dan Mpu Peniti keliling Jakarta menikmati udara sore sambil mencari tempat untuk ngopi.
Kami melewati sebuah restoran. Tampaknya masih baru. Kurang lebih baru
buka dua-tiga bulan. Tapi di depan sudah terpasang spanduk dengan
promosi 50% diskon. Mpu Peniti sambil senyum-senyum berkomentar bijak,
"Kasihan, ya. Sudah tidak laku malah dikasihtahu ke semua orang."
Saya tersenyum. Ini kesalahan yang sangat umum. Banyak pengusaha yang
membuka usaha tapi sudah sebulan berjalan masih saja sepi pengunjung.
Lalu panik. Mereka melakukan promosi membabi buta. Mau pasang iklan
segan. Karena sudah sepi, kena biaya iklan takut malah makin merugi.
Jadi, dipilihlah promosi yang paling mudah, spanduk. Tapi konsumen
zaman sekarang sudah pandai. Sudah bisa membaca gelagat.
Zaman dulu, department store yang suka bikin acara obral sangat disukai. Karena murah meriah. Beda dengan sekarang. Department store
yang terlalu sering obral dicibir konsumen. Kritik mereka, pasti mereka
tidak laku. Atau barangnya jelek-jelek, jadi diobral. Sebaliknya,
butik-butik ultra-eksklusif selalu tidak pernah melakukan obral.
Konsumen sudah sangat sensitif tentang hal ini. Jadi, merayu dan
membujuk konsumen akan makin sangat sulit.
Lalu, apa triknya? Kalau usaha sepi, hati-hatilah berpromosi.
Salah-salah justru mempromosikan bahwa usaha Anda sepi. Anda
mempertontonkan luka. Akibatnya bisa fatal. Usaha malah bisa semakin
sepi. Berpromosilah dengan cerdas. Kalau Anda punya restoran, bakery, toko kue, dan sebagainya, jangan terpancing melakukan soft opening. Berbahaya! Kalau belum siap, jangan buka dulu.
Pembukaan sebuah usaha harus meriah dan kalau perlu bikin macet. Trik
ini saya pelajari dari Bapak M.S. Kurnia (almarhum). Ketika saya masih
bekerja di Hero Pasar Swalayan, beliau selalu menasihati saya bahwa
pembukaan toko harus meriah sekali. Karena kesan pertama selalu
menentukan.
Kesan bahwa tempat usaha Anda ramai bisa diciptakan secara imajinatif.
Seorang teman bercerita, ketika membuka tempat kursus bahasa Inggris
pertama kali, ia memberikan kursus gratis tiga bulan. Ia sengaja
keliling kampus dan menawarkan kursus gratis tersebut hanya kepada
mahasiswi yang cantik-cantik. Tak lama kemudian beredar kabar bahwa
murid-murid di tempat kursusnya terkenal cantik-cantik. Bulan kedua,
tempat kursus itu diserbu para calon murid.
Seorang teman yang sukses membuka bakery bercerita bahwa
awalnya ia terpancing untuk mengikuti promosi, setelah pukul enam sore,
diskon 50%. Sebuah promosi yang populer di kalangan bakery
untuk menghindari terlalu banyak produk yang tersisa. Tapi akhirnya ia
mengambil jalan lebih imajinatif. Ia membuat promosi khusus arisan.
Buat mereka yang ikut arisan di bakery-nya pada pukul dua
hingga empat sore, ia memberikan roti dan kue gratis. Kelompok arisan
hanya membayar biaya minum, kopi dan teh. Hasilnya lumayan. Kelompok
arisan ini, setiap habis arisan, selalu saja berbelanja untuk oleh-oleh
di rumah. Setelah beberapa bulan berjalan, tokonya selalu ramai setiap
sore. Biaya diskon akhirnya ia salurkan dengan cara lebih imajinatif
tapi efektif.
Jadi, jika usaha Anda sepi, jangan cepat panik. Seorang jagoan tidak pernah memperlihatkan lukanya.

 | wikan .. klo bukan pebisnis kayak gw .. haruskah punya lawan? *mikir mode:on* |
 | wikan wrote on Jun 18, '06 wikan .. klo bukan pebisnis kayak gw .. haruskah punya lawan? *mikir mode:on*  kerjaanmu apa sih? |
 | wikan wrote on Jun 18, '06 di ktp dibilangnya karyawan .. :))))
-lam kenal dulu ya oom wikan-  salam kenal juga oom moris ... :)
kalau karyawan, lawannya bisa boss kamu sendiri ... misalnya boss kamu suka meriksa2 kerjaan kamu, daripada dimarahin boss, mendingan kerjaannya dibenerin, bikin case kira2 hal apa saja yang akan ditanyakan oleh boss, jadi bisa antisipatif sebelum boss nanya2 atau ngasih kerjaan tambahan, kamu bisa jawab.
kalau misalnya ikutan tender projek, lawannya bisa klien atau perusahaan pesaing ... bagaimana caranya supaya klien puas, dan perusahaan pesaing nggak tahu kelemahanmu.
yah, sebenarnya pesan ini nggak selalu applicable buat setiap kasus sih. Pesan-pesan Sun Tzu dalam "Art of The War" sendiri begitu banyak, sesuai dengan pengalaman perang dia, dan masing-masing punya ilustrasi sendiri-sendiri, tidak dalam setiap perang menggunakan strategi yang sama. Pak Kafi Kurnia mencoba mengaplikasikan pesan Sun Tzu untuk tidak membuka luka di depan lawan dalam dunia bisnis. Tapi dia juga mengilustrasikan dalam bidang olahraga. Yah, mungkin sesuai dengan berjalannya waktu, Pak Moris bisa menerapkan pesan ini dalam menghadapi kasus tertentu.
Btw, masih jadi karyawan instansi Orba? :) |
 | wikan wrote on Jun 18, '06 bener juga yaa .. ga kepikiran gw .. atow gw nya yg telat mikir .. :D
status: karyawan yg lagi ga dikasi kerjaan sama bosnya ..:)))  makanya, jangan perlihatkan kalau Anda itu pemalu, pendiam, tidak pede, sulit tersenyum & tidak bisa serius :)) |
 | wikan wrote on Jun 18, '06 setuju mas Wikan! saya juga kerap kasih kerjaan yang terbaik, agar nggak ada celah bos untuk marahin. tapi, uniknya bos saya orangnya paling pinter nyari kelemahan, ada aja yang dianggap salah, meski awalnya sempat muji kerjaan kita.  mungkin boss-nya Pak Udin menerapkan strategi yang lain ... jangan mau ditipu sama anak buah :)) carilah setiap kelemahan anak buah ... carilah setiap kekurangan pekerjaan anak buah he he ....
kalau nggak kayak gitu, nggak jadi boss, kayaknya :)) |
 | sementara ini, lawan terbesar saya adalah (ketidak-disiplinan) diri sendiri.. gimandang dor.. :P |
 | abisz wrote on Jun 18, '06 pembangkit motivasi yang bagus.... :-)) tinggal praktek.... |
 | [color= blue]serius mode on[/color] Benar sekali... Aplikatif juga dalam pergaulan... Thanks buat blognya... Nambah ilmu... :)
|
 | wikan wrote on Jun 18, '06 sementara ini, lawan terbesar saya adalah (ketidak-disiplinan) diri sendiri.. gimandang dor.. :P  jangan bilang2 ke mp, kalau Anda gak disiplin :)) |
 | wikan wrote on Jun 18, '06 buat abisz, blognicko, littlelf ... makasih ... buat pak tian & pak moris ... saya emang sering buka2 gatra kok ... eh, pak tian ... mbok saya dikasih gobang gitu deh :) |
 | hmmm.. menarik.... . bisnis sekali.... : saya sendiri cenderung bersikap apa adanya. kalau luka saya kelihatan, ya sudah, that's me. i always try to be better, but still, i have strengths and weaknesses... biar aja kelihatan dua2nya. it works for me, but perhaps not for others. |
 | tulisanya mas wikan bagus menarik sekali :) menambah wawasan |
 | wikan wrote on Jun 19, '06 hmmm.. menarik.... . bisnis sekali.... : saya sendiri cenderung bersikap apa adanya. kalau luka saya kelihatan, ya sudah, that's me. i always try to be better, but still, i have strengths and weaknesses... biar aja kelihatan dua2nya. it works for me, but perhaps not for others.  he he ... bener, kalau dalam dunia bisnis, suatu sikap atau pendekatan yang berbeda memang dibutuhkan untuk menarik pasar. jadi pendekatan yang biasa2 saja, seperti pemberian discount pada saat pembukaan usaha/toko malah membuat tidak menarik bagi calon konsumen (walau mungkin ada juga yang tertarik). Justru langkah awal itu menentukan kelangsungan usahanya. Pendekatan yang konvensional bikin "luka" terlihat oleh lawan, sehingga malah jadi titik yang mematikan buat usaha dia.
Kalau sikap yang dipaparkan oleh Teh Merlyn ini seperti pernah saya di buku "Thick Face Black Heart" karangan Chi Ning Chu. Jadi alih-alih menutupi kelemahan diri, malah membuat kelemahan itu sebagai suatu ciri khas atau kekuatan. Mungkin lain kali saya jelaskan lebih lanjut :) |
 | wikan wrote on Jun 19, '06 tulisanya mas wikan bagus menarik sekali :) menambah wawasan  terima kasih Fahrul, yang nulis sebenarnya bukan saya, tapi Pak Kafi. Saya cuman naruh di mp, sambil nambah2-in :) |
|